Wednesday, Apr 23rd

Last update03:38:03 PM GMT

You are here Pariwisata Wisata Kuliner Lapau Nasi Rang Minang

Lapau Nasi Rang Minang

E-mail Cetak PDF

Di edit dari : Catatan Beryl Causary di Facebook

Kuliner dianggap sebagai warisan Minangkabau, karena mampu mendominasi jenis masakan yang ada di Indonesia. Begitu pula orang menyimpulkan tentang batik. Batik yang dianggap sebagai warisan Jawa, karena mendominasi berbagai ragam batik yang ada di Indonesia. Dominasi kuliner Minangkabu ini di Indonesia, disebabkan perantau Minang tidak satu selera dengan jenis dan ragam masakan setempat, dimana ia pergi merantau.

Para perantau Minang itu ketika rindu kampung halamannya, mencoba memasak sendiri, kemudian memasak bersama,  hingga  membuka warung untuk melayani kepentingan perantau itu sendiri, yang jumlahnya kian membesar.

Jika ditilik, tujuan merantau pada diri orang Minangkabau adalah untuk mencari kemuliaan melalui ilmu dan harta.

Nak mulia bertabur urai. Nak kayo kuek mancari. Nak bapangkek dirikan kemenangan.

Cita rasa masakan yang ada di lapau nasi Minangkabau itu,  umumnya menyanyikan masakan sederhana, kemudian dinilai istimewa oleh masyarakat non minang. Di seluruh pelosok Nusantara, terdapat lapau Mingkabau ini, sebutan yang beragam, yaitu Restoran Padang, Warung Nasi Padang, dll. Keistimewaan masakan minang itu disebabkan perpaduan rasa yang berimbang antara rasa manis – rasa asam – rasa asin – rasa gurih dan lagit.

Akhirnya untuk melayani sesama perantau minang dan dapat pula dinikmati oleh masyarakat diluar minang, maka membuka peluang kepada perantau minang  membuka “lapau” ini atau bekerja di lapau sambil membawa piring bak  “penari piring” .  Ketika ada kemampuan, ada peluang dan ada pengetahuan kuliner,  maka menciptakan cara yang paling mudah untuk menggunakan kemampuan diri para perantau minang itu dalam menggunakan tenaga dan upayanya berupa ” tulang nan salapan karek” . Inilah modal ketika orang minangkabau memulai perantauan.

Keunggulnya kuliner Minangkabau, tidak saja karena cita rasa, bisa juga karena kesederhanaan dan kepraktisan. Praktis dalam penghidangannya menyebabkan restoran Minang mampu menyaingi restoran yang berkelas.  Hal ini tentu berbeda di awal perkembangan Lapau Minangkabau zaman dulu hingga menjadi Restoran Padang sebagaimana yang kita kenal saat ini. Lapau Nasi yang semula diwujudkan dalam pelayanan yang sederhana – murah dan terjangkau oleh barbagai kalangan baik dalam bentuk  nasi bungkus atau nasi kotak, dapat pula dihidangkan  untuk mengisi menu makanan rapat. Lapau Nasi melayani siapa saja, untuk mengganjal perutnya di pojok-pojok jalanan atau kaki lima atau di tempat manapun setiap orang pasti merasa dirinya lapar.

Lapau Nasi Minangkabau tak pandang kelas sosial. Bagi pemilik lapau - dapat dijadikan sebagai komodisti usaha untuk memperoleh uang. Atas penghasilan lapau nasi ini, pemilik lapau akan menerima uang dari omzet yang bisa berlipat ganda. Akhirnya Lapau Nasi Minangkabau – berada di  garda depan kuliner Nusantara, yang dikenal dari kalangan atas hingga rakyat jelata.

Yang ikut berjasa memperkenalkan kuliner minangkabau adalah Orkes Gumarang dengan lirik-lirik indahnya tentang masakan minang. Orkes Gumarang yang berhasil mengangkat lagu Minang era ‘60-an ke Jakarta. Orkes ini berjasa besar menaikkan pamor restoran Minang di ibukota. Ketika masa dahulu belum ada Restoran siap saji seperti sekarang ini, maka gaung makan di Restoran Minang telah berkumandang ke seluruh Nusantara. Pusat kuliner Minangkabau di Jakarta tempo doeloe ada di wilayah Kramat Raya hingga Matraman Raya. Jika orang bepergian keluar kota dari Jakarta menuju Bandung via Puncak menggunakan angkutan umum/bus, maka bagi para sopir bus yang memutar kaset lagu Minang,  selalu dapat jatah makan gratis. Demikian pula sopir taksi yang membawa penumpang.

Bagi yang bukan orang Minang akan terbuai pula dengan alunan lagu, juga akan masuk ke Lapau Nasi Rang Minangkabau ini . Atau bagi yang lidahnya sudah pacak ( sudah cocok) dengan rasa pedas, aroma dan harumnya komposisi bumbu, dapat menikmati masakan minang itu. Mereka juga akan semakin larut dalam lagu-lagu sendu atau lucu-lucu ala Minang. Bukan kebetulan kalau lterdapat banyak lagu berkonotasi “lambuang” atau kerinduan perantau, sang pengelola restoran seperti ; Kampuang nan jauah di mato, Teluk Bayur Permai, Marapi- Singgalang.

Lagu-lagu berjudul masakan  atau menyindir masalah “lambuang” antara lain :

Urang gaek mancilok lamang, luko bibianyo dek sambilu ……. (Si Nandi-nandi).
Lompong sagu bagulo lawang, sadang katuju diambiak urang ……. (Lompong Sagu).
Bunyi kulek cando badendang, indak tampak mintuo lalu ………(Bareh Solok)
Bia tarumuak badan di rantau, rinuak di kampuang takana juo (Palai Rinuak).
Kawin sama orang Jawa, tahu ka tahu……tempe ka tempe…..(Oslan Husen taragak patai jo jariang)

Apalagi ya……. Bagaimana dengan lagu-lagu “lambuang”  yang jenaka lainnya ?  Nama restoran-restoran tempo dulu yang ada di Kramat dan Puncak , antara lain : Restoran Beringin. Restoran Roda. Restoran Saiyo. Dari dulu pun sebenarnya mereka telah mempraktekkan sistem kerja sama ” wara laba “.  Akan tetapi wara laba yang dianutnya berbeda dengan sistem wara laba yang dikenal sekarang. Jika sekarang – jenis wara labanya adalah satu manajemen – dimana goodwillnya telah dibeli oleh pihak lain.

Apa sebab dan sejak kapan sistem frenchise itu melanda Lapau Minangkabau ? Tidak lain karena dari sekedar lapau sederhana berubah menjadi restoran kecil, kemudian mengembangkan sayapnya dalam satu bendera yang menyandang nama nama Restoran besar seperti yang kita kenal  sekarang ini, seperti Simpang Raya, Sederhana, Salero Bagindo.”

Dari sekedar memenuhi hajad perut, lidah dan selera, Lapau Minangkabau kemudian berkembang jadi restoran Padang atau restoran Minang. Tidak saja memenuhi kebutuhans segelintir orang yang masih mempertahankan keaslian seleranya – kemudian Lapau Minangkabau berkembang menjadi restoran tidak sederhana lagi, melainkan menjadi restoran  yang mahal dan eksklusif. Citra rasa sudah bisa dinikmati secara universal dan kadang tidak lagi sesuai ke khas kuliner Minangkabau. Sekarang kita menganut paham bekerja sama dalam keramahan “  di awak nan paralu pitih.