Wednesday, Apr 23rd

Last update03:38:03 PM GMT

You are here Artikel Khusus Tugas Penghulu Bag.2

Tugas Penghulu Bag.2

E-mail Cetak PDF

III. Mamaliharo Harato Pusako

Mempunyai tangan harato pusako, Seorang penghulu mempunyai kewajiban memelihara harta pusaka kaumnya dan anak kemenakannya, yang disebutkan dalam ketentuan adat :


Kalau sumbiang dititik
Patah ditimpa
Hilang dicari
Tabanam disalami
Anyuik dipinteh
Talamun dikakeh
Kurang ditukuak
Rusak dibaiki

Artinya seorang penghulu harus berusaha memelihara harta pusaka anak kemenakan, jangan sampai terjual atau berpindah kepada orang lain. Begitupun tergadai yang tidak menurut syarat yang telah dibolehkan oleh adat Minangkabau, seperti untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan anak dan isteri.

Boleh juga digadaikan hanya kalau telah ditemui salah satu syarat menurut adat, seperti gadih gadang tak balaki, maik tabujua tangah rumah, rumah gadang katirisan, adat tak badiri. Syarat tersebut harus terjadi dengan sesungguhnya, dan tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain dari menggadaikan harta pusaka tersebut. Pendeknya seorang penghulu harus berusaha jangan sampai harta pusaka anak kemenakan dan kaum, tergadai tidak menurut semestinya, menurut kehendaknya sendiri-sendiri dan berusaha mencarikan jalan keluar untuk mengatasinya, dengan mengamalkan maksud pepatah :

Barek samo di pikiua
Ringan samo dijinjiang.

dengan jalan bantu membantu dalam kaum tersebut. Seorang penghulu harus berusaha untuk menambah harta pusaka anak-kemenakan dengan jalan manaruko sawah yang baru atau ladang, atau setidak-tidaknya berusaha meningkatkan hasil yang telah ada pada masa tersebut. Harta pusaka yang merupakan ulayat bagi seorang penghulu adalah daerah teritorial kekuasaan seorang penghulu. Disanalah berkembang anak kemenakan hidup dan berkehidupan, berumah dan bertetangga, bersawah dan berladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dengan hasil sawah ladang tersebut ia dapat mendidik anak kemenakan, membangun sekolah dan mesjid, membangun rumah dsb.

Kalau ulayat yang tempat bersawah dan berladang, ini telah terjual atau tergadai oleh seorang penghulu, maka habislah daerah kekuasaannya, hilanglah sumber ekonomi anak kemenakannya.
Dalam adat dikatakan :

Suku baranjak
Bangso pupuih
Manah hilang

Suku dari seseorang penghulu akan hilang dan habis dengan berpindahnya hak milik dari ulayat tersebut, dan lama-lama bangsa dari seorang penghulu akan lenyap dan habis, tanah tempat mencari sumber penghidupanpun hancur, tidak ada tempat bagi keturunan di masa datang.
Pepatah mengatakan :

Sawah ladang banda buatan
Sawah batumpak di nan data
Ladang babidang di nan lereng
Banda baliku turuik bukik
Cancang latiah niniak moyang
Tambilang basi rang tuo-tuo
Usah tajua tagadaikan
Kalau sumbiang batitik
Patah batimpa hilang bacari
Tarapuang bakaik tabanam basalami
Kurang ditukuak ketek di pagadang
Senteng dibilai singkek diuleh.

IV. Mamaliharo Anak Kamanakan

Tugas penghulu yang keempat ini adalah tugas yang berat, tetapi murni dan suci. Seorang penghulu yang baik dan bijaksana dapat memberikan arahan kepada anak kemenakan didalam segala lapangan kehidupan. Tugas memelihara anak kemenakan tergantung kepada berjalannya tugas yang tiga macam sebelumnya secara baik. Tanpa dapat menjalankan tugas tersebut, seseorang tidak akan berhasil dalam memimpin anak kemenakan dan kaum, yakni :

Manuruik alua nan luruih
Manampuah jalan nan pasa

dan memelihara harta pusaka sebagai sumber penghidupan dari anak kemenakan tersebut, seperti kata pepatah :

Anak dipangku kamanakan dibimbiang
urang kampuang di patenggangkan
Tenggang nagari jan binaso
Tenggang sarato jo adatnyo

Dari pepatah adat diatas kita dapat mengerti bahwa seorang penghulu disamping membimbing/memimpin kemenakannya dia harus bertanggung jawab memimpin anaknya. Dalam diri seorang Minangkabau melekat lima macam tugas dalam dirinya. Dia adalah sebagai pemimpin dari anaknya, pemimpin dari kemenakannya, dan pemimpin dari korong kampuangnya juga pemimpin didalam masyarakat nagarinya (kerapatan adat nagari) .

Bila seorang penghulu benar-benar menjalankan tugas kepenghuluannya secara baik menurut adat, tugas-tugas tersebut diatas akan dapat dijalankan sekaligus, sesuai dengan pepatah diatas.

Bukan hanya penghulu tahu kepada anak kemenakannya semata, tetapi juga dia tahu kepada korong kampuang dan nagarinya, serta keluarga di rumah tangga isterinya, dengan memimpin dan membimbingnya.Tentu saja dengan cara pimpinan yang berbeda, dengan memimpin anak dan kemenakannya sendiri.

Kesimpulan :
Tugas pokok penghulu di dalam nagari sapat disimpulkan dalam papatah :

Manuruik alua nan luruih
Manampuah jalan nan pasa
Alua luruih barih tarantang
Jalan pasa labuahnyo golong
Indak manyimpang kiri jo kanan
Luruih manantang barih adat
Hanyuik bapinteh
Hilang bacari
Tarapuang bakaik
Tabanam basalami
Tingga dijapuik
tapacik dikampuangkan
Jauah diulangi

Kalau kusuik disalasai
Kalau karuah di janiahi
Kusuik bulu paruah manyalasaikan
Kusuik banang cari ujuang jo pangka
Kusuik sarang tampuo api mahabisi

Disuruah babuek baiak
Dilarang babuek mungka
Kasudahan adat di balairung
Kasudahan dunia ka akhirat

Sumber : Buletin Sungai Puar 14 April 1986

<< Halaman Sebelumnya