3 Upacara Adat Sumatera Barat Yang Menarik Bagi Turis Asing

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 17 Dec, 2015 | Dibaca: 1108 | Nomor Artikel: #0649
Sarankan Laporkan Print Favorit

Indonesia terdiri dari banyak budaya dan adat istiadat sesuai daerah masing-masing, tak terkecuali Sumatera Barat. Di propinsi ini, adatnya menganut syariat Islam dan unsur Melayu masih melekat dalam setiap event tradisional.

Dari sekian banyak adat istiadat, berikut adalah 3 upacara adat yang cukup menarik minat para wisatawan.

1. Tabuik

tabuik-pariaman

Tabuik adalah sebuah upacara adat yang dilaksanakan setial tanggal 10 Muharam. Upacara ini memperingati wafatnya Husein, cucu dari Nabi Muhammad SAW dan lebih dikenal dengan sebutan hari Asyura. Tabuik pertama kali dikenalkan oleh tentara Tamil muslim yang berasal dari India pada tahun 1831. Makna Tabuik sendiri merupakan pengusungan jenazah. Awalnya, upacara ini merupakan adat Syi’ah namun kini hanya sebagai acara untuk wisata.

Peringatan Asyura meliputi upacara pelabuhan tabuik ke laut lepas. Bagi masyarakat Minang, Tabuik sangat penting untuk menghormati keluarga Nabi Muhammad SAW. Banyak warga desa yang berbondong-bondong ke pantai untuk melakukan upacara atau sekedar menyaksikan hiruk pikuknya pelaksanaan tersebut.

2. Balimau

tradisi-balimau

Balimau merupakan pesta rakyat sesuai syariat Islam yakni dengan membersihkan diri di sungai atau di tempat-tempat pemandian umum. Balimau diadakan saat sebelum bulan Ramadhan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Yang unik dari upacara ini adalah cara mandinya dengan menggunakan air limau atau jeruk nipis. Jeruk nipis dipercaya dapat membasuh kotoran serta keringat yang melekat pada kulit.

Pemakaian jeruk nipis pada upacara ini adalah sebagai bentuk simbol mandi pada jaman dahulu saat belum tersedia sabun – warga Minang membersihkan diri dengan jeruk nipis. Tentu saja, para pria dan perempuan diharuskan mandi di tempat terpisah. Kalau laki-laki mandi di sungai, maka para perempuan bisa mandi di tempat pemandian yang lebih tertutup. Namun saat ini, banyak terjadi penyimpangan karena tak jarang warga setempat berbondong-bondong ke sungai – pria maupun wanita – untuk meramaikan perayaan Balimau ini. Alhasil upacara yang dulunya merupakan upacara keagamaan kini beralih fungsi menjadi sebuah perayaan atau rekreasi.

3. Makan Bajamba

makan-bajamba

Makan Bajamba atau Barapak adalah kegiatan makan masyarakat Minang dengan cara duduk bersama-sama di sebuah tempat yang sudah ditentukan. Tradisi turun temurun ini bertujuan untuk mendekatkan diri satu sama lain tanpa memandang kelas sosial seseorang.
Tak jarang upacara ini dipadati oleh wisatawan yang penasaran terhadap Makan Bajamba. Meja yang panjang dan alas seadanya menjadi tempat perjamuan berlangsung. Bahkan kelompok-kelompoknya terdiri dari puluhan hingga ratusan orang yang duduk berhadap-hadapan di meja yang memanjang.

Tradisi Makan Bajamba pernah tercatat dalam MURI di tahun 2006. Untuk memperingati HUT kota Sawah Lunto yang ke 123, pemerintah mengadakan makan bersama yang diikuti oleh 16 ribu orang.

Bila Anda ingin merasakan kultur Sumatera Barat yang sesungguhnya, tak ada salahnya berkunjung saat warga setempat mengadakan upacara adat di atas.

Artikel Terkait