Papatah Patitih Minang K 1 s/d 82

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 11 Dec, 2015 | Dibaca: 903 | Nomor Artikel: #0614
Sarankan Laporkan Print Favorit

K

1.Kacondong mato rang banyak

Oleh karena sikap, tingkah laku, serta taraf ekonominya  sekonyong-konyong berubah menanjak, dan perubahan itu  tidak diketahui asal usulnya, maka orang ini dapat diperkirakannya telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.


2.Ka lurah samo manurun, ka bukik samo mandaki

Seiya sekata.


3.Kamanakan dibawah dado

Yakni kemenakan yang hanya sama kesukuannya tapi berlainan peng-hulunya dan tidak pulasabarek sapikua.


4.Kamanakan dibawah daguak

Yaitu kemenakan-kemenakan yang ada hubungan darah baik dekat maupun jauh.


5.Kamanakan dibawah lutuik

Yakni kemenakan yang berbeda suku dan nagari asalnya, tapi minta  pe-lindungan kedalam pesukuannya.


6.Kemanakan dibawah pusek

Istilah kemenakan yang hanya sama pesukuannya, tapi berlainan nagari.


7.Karajo baiak ba imbau-an

Bila ada sesuatu kenduri perkawinan, khitanan, turun mandi anak dan lain-lainnya harus diberi tahukan, atau diundang segala kaum kerabat.


8.Karajo buruak baambau-an

Bilamana ada musibah, seperti kematian, sakit, terbakar rumahnya, ke-malingan, kerampokan, dan bencana-bencana lainnya, haruslah segenap anggota keluarga masyarakat itu langsung berdatangan tanpa diberi tahukan.


9.Kato alim, kato hakiki

Apa yang diucapkan oleh ulama merupakan ajaran yang pengetahuan inti, dalam ajaran agama Islam, sebab semua perkataannya berdasarkan Kitabullah.


10Kata antah, kato dipakatokan

Bilamana suatu keputusan yang masih dalam karaguan, haruslah diulang kembali memusyawarahkannya, untuk mengambil "kato iyo" atau "kato indak".


11.Kato Bagalau, kato binasa

Perkataan atau ucapan orang banyak yang tidak menentu sulit untuk diambil sebagai bahan keputusan atau kebijaksanaan tanpa diselidiki kebenarannya sehingga dapat merusak suasana kedamaian dalam masyarakat. Dan penghulu dalam memberikan keputusan memerlukan data yang sesungguhnya, karena seperti telah diketahui  adat bersendi sarak, sarak bersendi Kitabullah.


12Kato bangih, kato talampau

Perkataan atau keputusan yang dilahirkan dengan kemarahan oleh seorang pimpinan adalah merupakan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan kepemimpinannya. Yang dimaksud dengan talampau (terlampaui) adalah kedudukannya sebagai pimimpin atau jabatan yang dipegangnya itu tidak sesuai dengan kedudukannya sebagai pimimpin.Seharusnya dia belum pantas memegang jabatan setinggi itu, karena orang pemarah (pambangih) adalah orang kecil yang tidak berpengetahuan.


13.Kato basandiang, kato malukoi

Perkataan atau ucapan yang tajam akan merusak perasaan orang lain, ini merupakan perkataan orang yang tidak tahu diadat, karena perkataan yang tidak bijaksana adalah perkataan orang rendah martabatnya dipandang masyarakat.


14.Kato Baso, kato Mardeso

Apa yang diucapkan oleh orang-orang besar penuh mengandung pengetahuan dan kebijaksanaan yang menyenangkan masyarakat. Kalau orang besar melakukan sebaliknya maka masyarakat tidak akan mempercayainya lagi.


15.Kato dahulu, kato sabananyo

Kesepakatan atau perjanjian yang pernah dibuat harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang bersangkutan.


16.Kato dubalang, kato mandarah  

Perkataan hulu balang harus jelas dan tegas, sesuai dengan tugas dan fungsinya.

17.Kato Duo, kato maragu  

Suatu keputusan yang bermakna ganda, akan selalu meragukan, oleh sebab itu harus dihilangkan pengetahuannya menjadi tunggal.


18.Kato Iyo, kato baturuik

 Suatu ucapan atau kesepakatan yang telah disetujui haruslah dituruti dan dilaksanakan. Kalau tidak, berarti mungkir janji, dan dianggap munafik.


19.Kato kamudian, kato babuek.

Adalah merupakan perubahan atau penyimpangan dari apa yang telah diperjanjikan semula.


20.Kato mancari kawan

Dalam adat istiadat Minangkabau, bahwa suatu perkataan haruslah sifatnya mencari kawan atau persahabatan, dan tidaklah mencari permusuhan. Oleh sebab itu setiap tutur kata haruslah membuat orang simpati terhadap si pembicara. Adat selalu menuntut perdamaian yang sebenarnya, hingga perkataan perlu diikuti oleh perbuatan, agar ia berlangsung secara langgeng.


21.Kato mencari lawan

Ini adalah lawan dari Kato mancari kawan, yang merupakan perbuatan yang tercela bagi seorang yang beradat di Minagkabau.


22.Kato Mudo, kato basimanih

Tutur kata orang muda-muda haruslah manis bahasanya, sopan santun isi dan maknanya.

23.Kato mupakat, kato dijunjuang

Segala hasil keputusan mufakat, yang harus dilaksanakan oleh masyarakat.


24.Kato Pangulu, kato balipek

Apa yang diucapkan oleh seorang penghulu, banyak maknanya bagi masyarakat sehingga kalau dijabarkan akan mempunyai pengertian yang luas dan dalam.


25.Kato pusako

Yaitu kata-kata pusaka yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai pedoman dalam adat istiadat yang diamalkan oleh masyarakat dalam tata pergaulan hidup.


26.Kato rajo, kato malimpah

Perkataan raja merupakan pegangan dan pedoman bagi seluruh masyarakat.


27.Kato Rang Bijaksano, kato mangalah.

Perkataan orang yang bijaksana adalah perkataan yang tidak menantang, atau membuat tantangan yang menimbulkan goncangan, akan tetapi dalam bentuk mendidik dan membawa kepada kebenaran.


28.Kato Rang Pandai, kato bermakna

Para Cerdik Cendekia hanya akan mengatakan perkataan-perkataan yang mengandung arti yang dalam dan penuh ilmu pengetahuan. Bila tidak demikian fungsinya sebagi orang pandai tidak akan berarti bagi masyarakat.


29.Kato Rang Tuo, kato manyalasai

Perkataan orang tua sifatnya menyelesaikan persoalan, dan tidak menimbulkan persoalan. Kalau ia berbuat sebaliknya, maka hukuman yang ditimpakan masyarakat kepadanya adalah dia tidak didudukkan pada posisinya sebagai orang tua lagi, hilanglah kehormatan atas dirinya.


30.Kato Takuik, kato tak lalu  

Ucapan atau keputusan yang dibuat karena ketakutan, tekanan-tekanan, tidak akan memberikan hasil yang sebenarnya, sehingga tujuan masyarakat tidak akan kunjung terkabul, yang berarti suatu perkosaan terhadap hak-hak pokok dari masyarakat.


31.Kato Tido, kato mati

Bilamana suatu keputusan sudah mengatakan "tidak", itu berarti betul-betul tidak dapat diubah lagi. Karena "tidak" sudah merupakan larangan, dan kalau masih dilaksanakan berarti telah melanggar kesepakatan.


Kato Pangulu, kato balipek

Kato Malin, kato hakikaek,

Kato Manti, kato manghubuang,

Kato Dubalang kato mandareh,

Kato Rang banyak kato babaluak


32.Kato Adat

Kato adat sapatah sadang

Putusan adat  tak dapat diganggu gugat :

Tibo dadaun, daun ruruik,

Tibo didahan, dahan rantiah,

Tibo dibatang, batang rabah

Tibi diurek,urek mati

Tibo dibatu, batu pacah

Tbo ditanah, tanah lambang

Tibi didagiang, dagiang hancua

Tibo ditulang, tulang caia

Tibi didarah, darah karieng        


33.Kok pandai bakato-kato, bak santan jo tangguli, Kok tak pandai mangaluakan kato, bak alu pancukie duri

Kalau pandai berbicara, akan enak didengar orang dan cepat dimengerti,

Tapi tak pintar berbica akan susah dimengerti orang yang mendengarnya.


34. Kuaik rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso, kuaik bangso karano budi, rusak budi hancualah bangso.

Ketinggi suatu bangsa akan ditentukan oleh kepribadian bangsa itu sendiri. Kalau budi bangsanya telah hancur, akibat kehancuran bangsa itu sendiri.


35. Kilek baliuang lah ka kaki, kilek camin lah ka muko.

Suatu perbuatan dan perkataan yang telah difahami maksud dan tujuannya.


36. Kalau hari lah paneh lah lupo kacang jo kuliknyo.

Melupakan jasa baik orang lain yang pernah menolong kita, tetapi kapan kita telah mendapat kesenangan atau yang dicitakan melupakannya.


37. Kalau karuah aia di hulu sampai ka muaro karuah juo.

Pada umumnya keturunan menentukan corak dan kelakuan yang pernah dimiliki oleh ibu bapaknya.


38. Kalau kuriak induaknyo rintiak anaknyo.

Ibu bapak yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula dan sebaliknya.


39. Kasingka talalu ampang, kapitungguah talampau unjua.

Seseorang yang memiliki pengetahuan serba tanggung sehingga tidak dapat dimanfaatkannya.


40. Kato iduik banyawa iduik, kato mati bapambunuahan.

Suatu keterangan yang diberikan ternyata ada kebenarannya, dan suatu keterangan yang tidak terbukti kebenarannya.


41. Kuaik katam karano tumpu, kuaik sapik karano takan.

Suatu pekerjaan atau kewajiban yang dikerjakan karena terpaksa, bukan karena kesadaran.


42. Ka bukik samo mandaki kalurah samo manurun.

Suatu pekerjaan yang dikerjakan secara bersama dan didorong oleh kesadaran.


43. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.

Suatu pekerjaan begitupun tingkah laku dan peranggai yang dapat dicontoh oleh orang lain.


44. Kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih.

Seseorang yang baru saja mendapatkan suatu nikmat tetapi senantiasa dipergunakan dengan hati bangga dan sombong.


45. Kalau tasungkuik pado nan tinggi, jikok basanda pado nan gadang.

Sesuatu perbuatan hendaklah dilandaskan kepada Agama, Adat dan Undang-Undang Pemerintah.


46. Kato panghulu manyalasai, mandareh kato dubalang. Adaik kok kurang takurasai, dunia manjadi takupalang.

Ajaran Adat Minangkabau yang sejati kalau tidak diamalkan oleh masyarakatnya, hilanglah budi didalam diri.


47. Kalau dek pandang sapinteh lalu, banyak pahamnyo tagaliciak, pandai tak rago dek ba guru, salam tak sampai pado kasiah.

Ajaran Adat tidak dapat dipahami, apalagi untuk diamalkan kalau sekiranya hanya dengan mendengar pepatah petitih, tampa mendalaminya.


48. Katiko taimpik nak diateh, katiko takuruang nak dilua, bajalan baduo nak ditangah bajalan surang nak dahulu.

Pepatah ini mengandung arti: bagaimana sulitnya memimpin masyarakat yang jiwanya sangat kritis dan koreksi.


49. Kahilia jalan ka Padang, ka mudiak jalan ka Ulakan, kok musuah indak dihadang, tasuo nan indak ba ilakkan.

Tidak mau bermusuhan dalam hidup bermasyarakat tetapi kalua datang dengan tiba-tiba tidak pula dielakkan.


50. Kahilia jalan ka Sumani, sasimpang jalan ka Singkarak, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak.

Sesuatu hendaklah dengan musyawarah untuk mufakat. Satu pendapat dan satu tujuan.


51. Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo.

Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara.


62. Kato manti kato bahubuang, kato dubalang kato mandareh. Jauhari pandai manyambuang, nan singkek buliah diuleh.

Orang jauhari bijaksana pandai mencari jalan keluar dalam suatu kesulitan yang datang secara tiba-tiba.


63. Kiniko coraklah barubah, alam mardeka lah tabantang, sadang manggali kasajarah usahokan galian dek basamo.

Kemerdekaan telah tercapai, kita harus menggali sejarah kebudayaan bangsa secara bersama.


64. Kok alah sampai di hulu, balunlah pulo sacukuiknyo. Dek kokoh niniak nan dahulu kunci nan limo pambukaknyo.

Nenek moyang di Minangkabau pemikirannya jauh memandang kedepan untuk masa anak cucu, dengan mempergunakan panca indra yang lima.


65. Kito di alam Minangkabau lah patuik tasintak pulo, katiko balun talampau elok dirunuik sitambo lamo.

Sudah masanya sekarang kita mengali dan mengembangkan adat Minangkabau sebagai rangkaian dari kebudayaan nasional.


66. Kauak indak sahabih gauang, awai indak sahabih raso, paham pahamnyo nan tak lansuang, batuka tujuan mukasuiknyo.

Adat Minangkabau selama ini tidak pernah mendapat pengalian dan pembinaan, akibatnya banyak orang salah pengertian tentang tujuan adat itu.


67. Kalau pai tampak pungguang, jikok babaliak tampak muko.

Kalau pergi hendaklah memberi tahu, jika kembali hendaklah memberi khabar.


68. Kalau indak pandai bakato-kato, bak alu pancukia duri, kalau pandai bakato-kato bak santan jo tangguli.

Seseorang yang tak pandai berbicara secara baik, sama dengan alu pencongkel duri tetapi kalau pandai umpama santai dengan tengguli.


69. Kato papatah caro Minang, patitiah luhak nan tigo. Nan turun dari Parpatiah nan sabatang, manjadi kato pusako.

Ajaran adat Minangkabau yang disusun oleh Dt. Parpatih nan Sabatang, merupakan ajaran yang dapat mengikuti perkembangan zaman.


70. Kito nan bukan cadiak pandai, ulemu di Tuhan tasimpannyo. Kok senteang batolong bilai tandonyo kito samo sabanso.

Kalau dijumpai kekilafan dan kesalahan tolong maaf dan betulkan, karena khilaf itu sifat manusia, tandanya kita orang satu bangsa.


71. Kito nan bukan cadiak pandai, hanyo manjawek pituah dari guru. Pituah guru nan dipakai, nak jadi paham jo ukuran.

Nasehat guru dan pelajaran yang diajarkannya kepada murid, adalah menjadi pedoman dalam kehidupan.


72. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana.

Kalau dapat mendalami ajaran adat kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat.


73. Kaluah kasah papek nan ampek, sarato anggota katujuahnyo, panca indra manangguangkan, batang tubuah marasokan.

Sesuatu perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan akan menimbulkan penyiksaan terhadap bathin kita sendiri.


74. Kalau balaia banakodoh, jikok bajalan jo nan tuo.

Mengerjakan suatu pekerjaan hendaklah dengan yang ahlinya, memasuki suatu negeri hendaklah dengan orang yang mengetahuinya.


75. Kuaik dari paga basi, kokoh nan dari paga tembok.

Pagar yang paling kokoh ialah pagar sesuatu dengan budi yang baik.


76. Kato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.

Pikirkanlah semasak-masaknya apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain sehingga tidak menyinggung perasaannya.


77. Karantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun.

Pergilah merantau kenegeri orang, cari ilmu pengetahuan, serta cari mata penghidupan, untuk kemudian dibawa dan dikembangkan dikampung halaman.


78. Kasiah sayang dapek dicari, tampek hati jarang basuo.

Untuk mencari istri paling mudah, yang sulit mencari istri untuk menjadi teman sehidup semati.


79. Kalauik riak maampeh, kapulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih.

Setiap pekerjaan yang kita kerjakan, begitupun pengetahuan yang kita pelajari jangan patah ditengah.


80. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo.

Kalau pengetahuan baru seujung kuku jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit.


81. Kulik maia ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia ado ba bathin, dalam bathin bahakikat pulo.

Ajaran adat Minangkabau bukan sekedar lahiriyah, tetapi banyak mengandung arti dan makna yang tersirat, yang menuju kepada mental manusia.


82. Kacimpuang pamenan mandi, rasian pamenan lalok.

Mimpi itu kebanyakan sesuatu yang terangan-angan diwaktu bangun.


Artikel Terkait