Papatah Patitih Minang B 1 s/d 76

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 11 Dec, 2015 | Dibaca: 687 | Nomor Artikel: #0609
Sarankan Laporkan Print Favorit

B

1.Baban barek singguluang batu

Tugas berat yang dilakukan untuk orang lain, namun kalau ada risikonya,   kita sendiri yang menanggungnya.


2.Ba-hukum kepado raso-pareso

 Suatu keputusan hukum itu berdasarkan hasil penyelidikan,penyidikan dan keyakinan si pemberi keputusan.


3.Bajalan ba nan tuo, ba kato ba nan pandai, balaie ba nangkodo

Segala sesuatu pekerjaan harus diserahkan kepada ahlinya masing-masing


4.Bajanjang naiek, batanggo turun

Segala sesuatu pekerjaan harus menurut patutnya. Bilamana seseorang anggota suku akan mengajukan masalahnya, tidak boleh langsung kepada Pengulunya, tetapi terlebih dulu diadukan kepada mamak-mamak yang lain. Kalau gagal dalam mendapatkan penyelesaiannya, barulah ia dapat mengadukan persoalannya kepada pengulunya, namu bilamana terjadi sesuatu, maka pengulu akan lebih dulu membicarakannya dengan mamak-mamak yang lain, setelah itu barulah mamak menyampaikan kepada kemenakannya yang sedang bermasalah tersebut.


5.Bajua murah-murah

Seseorang yang menjual sesuatu barang sangat murah, jauh dari harga patut, dapat diperkirakan bahwa barang dijual itu berasal dari barang yang tidak sah, seperti hasil curian atau rampokan.


6.Baju sa alai dibagi duo

Mendirikan pengulu baru karena pembelahan suku yang disebabkan telah sangat berkembangnya warga suku tersebut.


7.Bakarek rotan

Memutuskan hubungan dengan seseorang. Umpamanya memutuskan hubungan pertunangan, atau memutuskan hubungan antara mamak dengan kemenakan berhubungan dengan terlanggarnya adat istiadat yang dianggap sangat tabu.


8.Bakato baiyo, bajalan bamulah

Setiap keputusan dan tindakan haruslah di lalui dengan jalan mesyawarah dan mufakat.


9.Balairung adat

Sejenis rumah adat di Minangkabau yang digunakan untuk mengadakan rapat adat dalam nagari. Rapat adat dilakukan secara terbuka. Jendelanya lebar-lebar dan tidak berdaun pintu agar masyarakat bisa mendengarkan pembicaraan pemuka masyarakan yang sedang membicarakan kepentingan masyarakat dalam mengambil suatu keputusan.


10.Bapak rumah

Lihat Rang Sumando.


11.Baramban

Secara teknis merupakan cara pembagian air dalam sistim pengairan  yang diatur sedemikian rupa sehingga pembagian air berlaku secara adil,sesuai luas sawahnya masing-masing. Pembuatan baramban ini harus diatur langsung oleh dubalang bandar ( orang yang diberi wewenang dan ahli dalam pembagian air sawah, dan juga bertanggung jawab memperbaiki atas kerusakan pengairan dalam kampung itu).


12.Barih-balabeh

Garis-garis pokok hukum adat Minangkabau. Dimana segala tingkah laku, perbuatan seorang anggota masyarakat tidak boleh keluar atau menyimpang dari aturan pokok itu. Inilah nanti yang akan merupakan kesatuan adat dalam tata prilaku dalam perbuatan dan tingkah laku.

(barih = susunan; balabebeh = pengikat susunan itu)

Barih ba ukue jo petatah, balabebeh ba ukue jo patitih

Susunan adat yang dibangun dengan pahatan kata-kata dalam pepatah yang menjadi ukuran ketentuan adat, sedangkan balabeh adalah hal yang mengatus barih. Jadi membuat aturan itu harus ada aturannya pulan, inilah balabeh.


13.Basa ampek balai

Merupakan Dewan Menteri Adat Minangkabu antara lain :


  1. Dt.Bandaro di Sungai Tarab, sebagai Pembesar Pemerintahan, yang

      terkenal dengan Pemuncak Koto Piliang.


  1. Dt. Indomo di Suruaso, sebagai pembesar Perbendaharaan, yang terkenal

      dengan puro Panuah Koto Piliang.


  1. Dt.Machudun di Sumaniak, sebagai Pembesar Politik dan Strategi, yang

    terkenal dengan Aluang Bunian Koto  Piliang.


  1. Tuan Gadang di Batipuah.

      Kemudian oleh Dt.Perpatiah Nan Sabatang ditingkatkan menjadi tiga

      Dewan Menteri lagi.


  1. Tuan Kadhi di Padang Gantiang, Sebagai pembesar Keagamaan, yang

      terkenal sebagai Seluah Bendang koto Piliang.


  1. Rajo Adaik di Buo
  2. Rajo Ibadaik di Sumpur Kudus.

14.Basasok bajarami

Silsilah keturunan didalam kesukuan menurut garis keibuan.


15.Basirosok

Suatu tata cara yang lazim dilakukan masyarakat di Minangkabau di pasar ternak, dimana dalam melakukan tawar menawar jual beli binatang ternak ialah dengan apa yang dinamakan "basirosok".Biasanya orang-orang yang datang menjual ternaknya membawa kain sarung, yang hanya disandang saja. Bila seseorang ingin menanyakan kepadanya, berapa dia akan menjual binatang ternaknya, umpamanya seekor sapi. Lalu sipenjual dan si calon pembeli serentak memasukkan tangannya kedalam sarung, sehingga kedua tangan mereka tertutup dan tidak terlihat oleh orang lain.


Kalau si penjual hendak menawarkan sapinya seharga 3.000.000,- rupiah ia menggenggam tiga jari calon pembelinya

(itu berarti ditawarkan 3.000.000,- rupiah).


Kalau calon pembelinya hanya sanggup membeli 2.500.000,- rupiah, si calon pembeli balik menggenggam dua jari dan jari ketiga dibengkokkan dipertengahan.


Kalau sipenjual menggelengkan kepalanya tandanya dia belum mau menjualnya sebanyak yang ditawarkan itu. Kalau menggelengkan kepalanya tandanya tidak setuju.


Tidak akan terjadi kalau seseorang menjual sapi atau kerbau menawarkan dengan memegang tiga jari, lantas si calon pembeli hanya membayar 300.000,- rupiah karena itu diluar patut, bahkan ia bisa dianggap orang sinting.


16.Basuluah batang pisang

Suatu perbuatan yang dilakukan secara ilegal.


17.Basuluah matohari, bagalang mato rangbanyak .

Suatu perbuatan yang dilakukan secara legal.


18.Basuriah bak sipasin, bajajak bak bakiak

Suatu perbuatan jahat yang dilakukan seseorang meninggalkan jejak atau bekas-bekas yang menunjukkan pembuktian -perbuatannya.


19.Batagak Gadang

Adalah upacara mendirikan penghulu, upacara ini dilangsungkan di rumah gadang.


20.Batu Bintalak

Adalah batu yang merupakan batas tanah antara tanah tetangga masing-masing. Batu ini tidak boleh dirobah atau  dipindah-pindah. Kalau menanamkan batu bintalak itu harus dengan persumpahan. bila ada yang berani melanggarnya  akan menderita sakit malah ada yang sampai terganggu ingatan, karena kena kutukan sumpah tersebut.


22.Batuka tando

Bilamana kedua famili antara pihak perjaka dan anak gadisnya telah sepakat dalam suatu perjodohan dalam menuju jenjang perkawinan, pihak famili di gadis datang ke rumah pihak famili perjaka menyerahkan barang bawaannnya, lalu  menukar dengan barang tukarannya kepada pihak famili si gadis. Barang bawan maupun barang tukarannya adalah  berupa barang adat, seperti kain balapak (sebangsa kain songket).Kain ini dikembalikan oleh masing-masing pihak setelah selesainya akad nikah kedua calon mempelai. Bilamana perjodohannya dibatalkan oleh pihak famili si gadis maka tando ( barang bawaannya) tidak dikembalikan  oleh pihak famili si Perjaka, tapi kalau yang membatalkan dari pihak si Perjaka maka merekan harus mengembalikan  dua kali lipat. Namun bagaimanapun juga lawan dari pihak yang membatalkan merasa malu.


23.Batunggua panabangan

Untuk mayakinkan kebenaran asal usul sebuah suku dapat diketahui dari bukti-bukti peninggalan yang masih tersisa.


24Ba undang-undang kapado alua jo patuik

Melakukan sesuatu keputusan dalam ukuran keadilan dan kepatutan.


25. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.

Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat.


26. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang.

Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun.


27. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah.

Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya.


28. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.

Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.


29. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.

Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama.


30. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan.


31. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula.

Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya.


32. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham.

Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya.


33. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek.

Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki.


34. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato.

Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat.


35. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh.

Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan.


36. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.

Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut.


37. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah.

Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.


38. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai.

Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.


39. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.

Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.


40. Basasok bajarami, bapandam pakuburan.

Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau


41. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang.

Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya.


42. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik.

Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat.


43. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan.

Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri.


44. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.

Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian.


45. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai.

Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah.


46. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan.

Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan.


47. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.

Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia.


48. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu.

Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing.


49. Buruak muko camin dibalah.

Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan.


50. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan.

Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi.


51. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.

Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya.


52. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang.

Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru.


53. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek.

Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya.


54. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.

Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.


55. Bak caro tontoang diladang, umpamo pahek ditokok juo barunyo makan, urang-urang ditanggah sawah digoyang dulu baru manggariek.

Seseorang yang tidak tahu kepada tugas dan kewajibannya sehingga selalu menunggu perintah dari atasan, tidak mempunyai inisiatif dalam kehidupan.


56. Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak.

Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.


57. Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.

Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain, tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.


58. Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.

Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia sia.


59. Bak balaki tukang ameh, mananti laki pai maling.

Menunggu suatu yang sulit untuk dicapai, karena kurang tepatnya perhitungan dan harapan yang tak kunjung tercapai.


60. Baulemu kapalang aja, bakapandaian sabatang rokok.

Seseorang yang tidak lengkap pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu, atau kurang pengetahuannya.


61. Bunyi kecek marandang kacang, bunyi muluik mambaka buluah.

Seseorang yang besar bicara tetapi tidak ada memberi hasil.

62. Baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang.

Pembicaraan yang dikeluarkan secra angkuh dan sombong, tidak memikirkan orang lain akan tersinggung.


63. Bak bunyi aguang tatunkuik, samangaik layua kalinduangan.

Seseorang yang tidak bisa bicara karena banyak takut dan ragu dalam pendirian.


64. Bak itiak tanggah galanggang, cando kabau takajuik diaguang.

Seseorang yang sangat tercegang dan takjub dengan sesuatu, sehingga tidak sadarkan diri sebagai seorang manusia.


65. Bungkuak saruweh tak takadang, sangik hiduang tagang kaluan.

Seseorang yang tidak mau menerima nasehat dan pendapat orang lain, walaupun dia dipihak yang tidak benar sekalipun.


66. Bumi sampik alam tak sunyi, dio manjadi upeh racun.

Biasanya orang yang disebut dalam no.61 diatas menyusah dan menjadi batu penarung.


67. Bak umpamo gatah caia, bak cando pimpiang dilereng, iko elok etan katuju.

Sifat seorang laki-laki atau perempuan yang tidak mempunyai pendirian dan ketetapan hati dalam segala hal.


68. Basikelah anggan kanai, basisuruak jikok kanai, tasindoroang nyato kanai.

Sifat yang harus dihindarkan, seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas segala perbuatannya.


69. Budi nan tidak katinjauan, paham nan tidak kamaliangan.

Seseorang yang tidak mau kelihatan budi, dan selalu hati-hati dalam berbuat bertindak dalam pergaulan.


70. Bak basanggai diabu dingin, bak batanak ditungku duo.

Suatu pekerjaan yang sia-sia dan kurang mempunyai perhitungan.

71. Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.

Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.


72. Bak galagak gulai kincuang, bak honjak galanggang tingga.

Seseorang yang berlagak pandai dalam sesuatu, tetapi yang sebenarnya kosong belaka.


73. Bak ayam lapeh malam, bak kambiang diparancahkan.

Seorang yang kehilangan pedoman hidup serta pegangan, berputus asa dalam sesuatu.


74. Bak balam talampau jinak, gilo maangguak tabuang aia, gilo mancotok kili kili.

Seseorang yang mudah dipuji sehingga kalau telah dipuji bisa terbuka segala rahasia.


75. Bagai kabau jalang kareh hiduang, parunnyuik pambulang tali, tak tantu dima kandangnyo.

Seseorang yang keras kepala tak mau menerima nasehat orang lain, sedangkan dia sendiri tak memahami tentang sesuatu.


76. Bak umpamo badak jantan, kuliek surieh jangek lah luko, namun lenggok baitu juo.

Seorang yang tidak tahu diri, sudah tua disangka muda, ingin kembali cara yang muda.



Artikel Terkait