Mohammad Hatta

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 14 May, 2014 | Dibaca: 1369 | Nomor Artikel: #0444
Sarankan Laporkan Print Favorit

Kesalaha terbesar Bung Hatta  (lahir dengan nama Muhammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah ketika dia memusnahkan pengertian kata dwitunggal dengan tindakannya yang paling drastis, yaitu mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk selama-lamanya pada 1 Desember 1956. Sejak itu, dalam kamus perpolitikan Indonesia tidak ada lagi kata dwitunggal. Kata itu dikuburkan dalam-dalam dan kemudian diganti dengan kata dwifungsi untuk kelanggengan sebuah rezim sesudahnya.

Bung Hatta dikatakan salah karena melakukan sesuatu yang tidak lazim. Lazimnya, seseorang yang telah menjadi presiden, wakil presiden, menteri,

gubernur, bupati, camat, ataupun kepala desa  apalagi pada masa
sekarang  mereka tidak pernah mau mundur. Dengan alasan bahwa jabatan yang diberikan kepadanya adalah sebuah amanah, maka setiap jabatan harus dipertahankan walau gagal sekalipun. Maka, Bung Hatta dapat dikatakan tidak memegang amanah.

Orang Minang menganggap pengunduran diri itu sebagai pangka bala yang menyebabkan tidak ada lagi orang Minang yang dipercaya untuk dipilih menjadi Wakil Presiden. Pengunduran diri Bung Hatta adalah sebuah kerugian bagi kebesaran dan martabat orang Minangkabau di dalam kancah perpolitikan. Hal itu suatu kesalahan  bukankah, konon, politik Indonesia sebelumnya didominasi oleh tokoh-tokoh Minang ?? Pengunduran diri Bung Hatta merupakan pula titik awal dari keliaran Soekarno dalam memberi warna politik Indonesia dan kehidupan berbangsa.

Keliaran Sukarno itu atau fauvisme kata tokoh seni rupa Perancis ketika pelukis Matisse memberikan warna hijau pada hidung seorang model lukisannya. Liar  karena Matisse telah meletakkan warna yang tidak lazim pada warna yang sudah dibakukan bagi warna kulit manusia.

***

Kenapa Bung Hatta  hemat dan tidak mengejar kebendaan dan harta, apalagi menyalahgunakan kekuasaan untuk menjarah kekayaan negara bagi kepentingan dirinya dan keluarganya ?? Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan kere munggah bale si miskin naik ke kekuasaan, dan dari posisi kekuasaan itu memuaskan hawa nafsunya akan harta sehingga menjadi lupa daratan sama sekali.

Bung Hatta terbebas dari cengkeraman kere munggah bale, karena ia berasal dari keluarga tidak kaya raya, tapi berkecukupan yaitu keluarga ulama dan saudagar. Ia beruntung tak mengalami kehidupan remaja yang keras dan sengsara. Ia terlepas dari culture of poverty. Tidaklah salah apabila panitia peringatan 100 tahun Bung Hatta menekankan pada tiga sifat Bung Hatta yaitu (1) jujur, (2) santun, dan (3) hemat.

Orasi kebudayaan Prof. Nurcholish Madjid, Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, 7 Juni 2002 mengenai Bung Hatta :

Dari demokrasi Minangkabau ke Demokrasi Indonesia  Bung Hatta adalah putra seorang guru mursyid sebuah persaudaraan sufi atau tarikhat di Sumatera Barat. Nama pribadi Muhammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari nama yang lebih lengkap yaitu (Ahmad ibn) Muhammad (ibn Abdal Karim ibn) Ata-il-Lah al-Sakandari, pengarang kitab Al-Hikam (Berbagai Ajaran Kearifan)  sebuah kitab tasawuf yang sangat terkenal di kalangan pesantren. Dari pihak ibu, Bung Hatta adalah keturunan keluarga saudagar. Kombinasi keluarga ulama dan keluarga saudagar itu membuat Bung Hatta berpenampilan sebagai insan berjiwa sufi. Orang berjiwa sufi adalah rendah hati jujur, sederhana, santun.

***

LATAR BELAKANG keluarga saudagar mewariskan kepada Bung Hatta sifat berhitung, menimbang untung dan rugi. Ditopang oleh kebudayaan Minangkabau yang menitikberatkan pada penggunaan akal sehat dan ratio, memperhatikan Alam nan Takambang, mengutamakan filsafat alam ataunatuur-filosofie, maka Bung Hatta adalah orang yang tak boleh dibuat main-main. Segala-galanya adalah sungguh-sungguh, dilakukan dengan serius. Kepentingan diri sendiri harus ditundukkan kepada kepentingan umum. Tugas kewajiban harus dipegang teguh. Jika jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang benar. Bung Hatta berangkat ke Negeri Belanda tahun 1921 dan selama sebelas tahun menjadi mahasiswa sampai meraih gelar Doctorandus Ekonomi pada Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam, dia memperlihatkan sifat-sifat tadi kepada sesama mahasiswa dan lingkungan sekitarnya.

Si Anak Kampus

Rekan-rekannya sesama mahasiswa boleh bercanda-canda, ngomong perkara cewek antara sesama mereka, akan tetapi begitu Bung Hatta datang, mereka menukar topik percakapan. Seorang mahasiswa Rasjid Manggis Datuk Radjo Panghoeloe bercerita tentang pesan Hatta kepadanya dalam bahasa Minang, antara lain :

* Jaan main nona (jangan main perempuan)

* Jaan minun minuman kareh (jangan minum minuman keras)

Hemat atau Pelit ??

Selain nilai-nilai yang ditanamkan oleh latar belakang kultural ulama dan saudagar, Hatta juga dipengaruhi oleh pendidikan Barat yang diperolehnya di sekolah, mulai dari sekolah dasar berbahasa Belanda Europese Lagere School (ELS) di Fort de Kock (Bukittinggi) hingga sekolah menengah pertama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang, kemudian di sekolah menengah dagang Prins Hendrik School (PHS) di Batavia (Jakarta). Pendidikan Barat yang dibuat menurut pola Belanda banyak mengandung nilai Calvinistis yang meresapi gereja Belanda yaitu Gereformeerde Kerk.

Henri Calvin, pelopor reformasi gereja yang hidup di Jenewa, Swiss pada abad ke 15 mengajarkan sifat-sifat hemat, hidup sederhana, bekerja keras, memasukkan masyarakat sebagai pegangan bagi anggota gereja. Maka kalau dikatakan orang Belanda itu mempunyai sifat-sifat Calvinistis, yang dimaksud biasanya ialah bahwa dia orang serius dalam kehidupan, bersikap sober atau membatasi diri dalam banyak hal, tidak berfoya-foya, tapi menabung, hemat.

On Time

Orang Spanyol punya budaya tak bisa pegang janji waktu. Terlambat tiba sampai jam-jaman dianggap biasa belaka. Setelah makan siang, orang Spanyol siesta, tidur sebentar. Baru setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya. Cara hidup demikian pasti tidak sesuai dengan sikap pendirian Bung Hatta. Sebagai modernizer Hatta senang dengan perubahan. Sebab modernisasi per definisi mengandung arti: PERUBAHAN !!.

Hatta sangat terbentuk jiwanya oleh bacaannya mengenai filsafat Yunani klasik. Bahkan dia menulis buku tentang alam pikiran Yunani. Ia berpegang kepada filsafat Heraklitus : Panta rei, segala sesuatu mengalir, segalanya berubah  Maka Bung Hatta pada dirinya mengkombinasikan tertib waktu dengan perubahan, keduanya ciri modernisasi. Punctuality and change, itulah yang dipegang oleh Bung Hatta sebagai pedoman.

Perubahan sangat didambakan oleh Bung Hatta ialah perubahan status dan nasib rakyatnya, dari rakyat yang dijajah menjadi rakyat yang merdeka. Untuk itu sejak masa muda dia berjuang dan berkorban. Waktu jadi mahasiswa di Negeri Belanda, dia diseret ke muka pengadilan di Den Haag bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Pamoencak, dan Abdulmadjid pada tahun 1928 atas tuduhan mau menjatuhkan pemerintah Belanda. Hatta dan kawan-kawan dibebaskan oleh hakim dan dalam pleidooinya Hatta mengucapkan keyakinannya bahwa negerinya pasti akan merdeka.

***

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Seperti itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Bung Hatta : Pemimpin Bangsa yang Bijak, Berprinsip Teguh, Berjuang Tanpa Kekerasan, Berusaha Sebaik Mungkin, dan Berkarya Nyata !!

Artikel Terkait