Jenaka Minang Kabau

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 12 May, 2014 | Dibaca: 1388 | Nomor Artikel: #0340
Sarankan Laporkan Print Favorit

I.Pendahuluan

Salah satu kebiasaan atau tradisi orang Melayu, khususnya orang Minangkabau yang masih tampak lekat begitu kuat adalah; tidak mau berterus terang. Terutama dalam dalam berbicara. Tidak berterus terang merupakan adab dan nilai tersendiri.
Menurut etika atau tata nilai, mereka yang bicara terus terang adalah anak-anak yang belum mengerti dengan bahasa kiasan, lambang-lambang atau simbol-simbol, hanya baru tahu memakai bahasa untuk berkata-kata saja, belum sampai pada taraf seni bahasa, adab bahasa dan sopan santun.
Orang yang bicara terus terang dianggap tidak beradat, tidak bertamaddun.

Dalam kaba Cindua Mato, Bundo Kanduang raja Minangkabau memarahi Dang Tuanku dan Cindua Mato ketika kedua anak muda itu bicara terus terang di dalam sebuah majelis para Basa Ampek Balai.

Walaupun Dang Tuanku adalah putranya sendiri, mereka diusir dari persidangan dan menyuruh pergi bermain layang-layang.

Dalam pepatah petitih juga ditemukan ajaran untuk tidak harus berterus terang sebagai berikut:

Sungguhpun harimau dalam paruik
Kambiang juo nan musti dikaluakan
Sungguhpun harimau dalam perut
Kambing juga yang mesti di keluarkan

Di kandang kambiang mambebek
Di kandang kabau malanguah
Di kandang kambiang mambebek
Di kandang kerbau melenguh

Angguk anggak geleang namuah
Angguk tidak, geleng mau

Orang Minangkabau lebih suka menyampaikan sesuatu dengan beribarat, bermisal-misal, sindir-menyindir, mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol, dalam bentuk pantun atau pepatah petitih, atau secara sambil lalu dalam kelakar dan senda gurau.
Menegur tingkah laku atau perbuatan seseorang yang tidak sejalan dengan etika dan norma-norma yang berlaku, tidaklah mereka lakukan secara terus terang.

 Berterus terang dapat pula menimbulkan akibat samping yang tidak menguntungkan, bahkan dapat menjadikan sebuah pergaulan retak, renggang atau putus.

Bila seseorang menyuruh mengambilkan sesuatu untuk kepentingan pribadi atau untuk kepentingan siapapun, selalu mengawali kalimat perintah dengan kata tolong.
“Tolong ambilkan kopiah ayah.” Walaupun yang diperintahinya anak atau istrinya sendiri.

Melalui jenaka pihak yang menegur tidak dibenci oleh pihak yang ditegur, dan pihak yang ditegur tidak merasa tersinggung.
Dapat dikatakan, berjenaka adalah salah satu cara sehat untuk menghindari akibat-akibat buruk dari berterus terang.

Sebagaimana yang mereka patrikan dalam pepatah;
awak mandapek, urang indak kahilangan artinya, tujuan kita tercapai tetapi orang lain tidak merasa dirugikan.

Seorang perempuan kebetulan berwajah kurang cantik misalnya, tidaklah mereka katakan wajah perempuan itu jelek atau buruk, tapi dikatakan dengan jenaka; Manihnyo lari ka dalam. Manisnya lari ke dalam.

Seorang suami selalu berusaha untuk tidak menyinggung perasaan istrinya.
Walaupun gulai yang dibuat isterinya terlalu banyak garam, si suami akan mengatakan dengan jenaka;
Lamak lo masin-masinnyo gulai ko. Enak pula masin-masinnya gulai ini.

Menasehati seseorang agar bersabar mendengar orang lain bicara keras, marah, tak keruan atau terus terang kepadanya, nasehat itu disampaikan dengan jenaka:
“Urang nan indak buliah didanga keceknyo ado ampek;

partamo urang jago lalok.
Kaduo, urang kamatian bini.
Katigo, urang kayo jatuah bansaik.
kaampek, urang bapangkek tenggi baru pansiun.”

(Orang yang tidak perlu didengar bicaranya ada empat;
pertama, orang baru bangun tidur.
Kedua, orang yang kematian istri.
Ketiga, orang kaya jatuh miskin.
Keempat, orang berpangkat tinggi baru pensiun.)

Oleh karena itu, jenaka, kejenakaan, berjenaka menjadi salah satu bagian yang penting dalam kehidupan mereka.
Merupakan pintu keluar menghindari keterusterangan.

II.Bentuk Bentuk Jenaka

Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau terdapat tiga macam bentuk jenaka;

1. Kucindan â€“ senda gurau dalam bertegur sapa (Irfan Darwis,1980).
Di dalam pepatah-petitihnya, salah satu unsur dari seorang perempuan yang baik itu disebutkan; muluik manih kucindan murah (mulut manis kecindan murah). Dalam bertegur sapa dia menyelitkan gurauan yang baik, yang membuat orang senang atau tersenyum. Dia bukan berjenaka, atau sengaja melakukan sesuatu yang jenaka, tetapi kata-kata yang diucapkannya dapat menimbulkan sedikit gurauan.

Kucindan dalam dialog sehari-hari;

- Lah bara urang anaknyo? (Sudah berapa orang anaknya?)
+ Baru anak lidah (Baru anak lidah), artinya belum punya anak seorangpun.

- Apo anaknyo? (Apa anaknya)

+ Kundua (Kundur) maksudnya gemuk, bersih dan sehat seperti buah kundur
(Navis, 1986)

2. Garah - senda gurau untuk bersuka ria dan tertawa bersama. Bagarah artinya bersenda gurau atau berjenaka.
Senda gurau dalam bentuk garah ini sangat lazim dipakai.
Seseorang yang suka bersenda gurau disebut pagarah, dan setiap orang suka kepadanya.
Orang yang tak pandai bagarah dianggap sebagai orang yang kaku, sombong dan pemarah.

Namun kata bagarah tidak pula dapat diartikan bermain-main, atau tidak serius.
Bagarah itu adalah cara untuk menyampaikan sesuatu yang serius dengan tidak serius.
Akan tetapi kata dipagarahkan tidak dapat diartikan dipersendaguraukan atau diperjenakakan, karena arti kata dipagarahkan sama artinya diperolok-olokkan, dipermain-mainkan, dipersendokan.

Orang yang lebih tua atau yang dihormati tidak boleh dipagarahkan, apalagi kalau seorang gila yang memegang lading/parang. “Urang gilo baladiang jaan dipagarahkan” artinya, orang gila yang sedang memegang parang jangan dipermain-mainkan. Makna sesungguhnya adalah; orang yang sedang memegang kekuasaan jangan dilawan.

a. Garah dalam bentuk pantun:

Tanah liek bakupiek
Ditimpo tanah badarai
Nan alun diliek lah diliek
Kuciang jo mancik samo bakasai.

Tanah liat berkepiat
Ditimpa tanah berderai
Yang belum dilihat sudah dilihat
Kucing dan tikus sama berkasai

(A.A.Navis, 1986)

b. Garah dalam bentuk pemeo:

Bak sibisu barasian, taraso lai takatokan indak.
Seperti si bisu bermimpi, terasa ada terkatakan tidak 
Bak si kompoang dapek cincin.

Seperti si buntung dapat cincin. Gembira tapi tak tahu di mana harus dipakai karena dia tidak punya jari.

c. Garah dalam bentuk teka-teki:

Sikicak sikicam si rio-rio kandi
Nan masak nan masam, nan mudo nan manih

Sikacak sikicam si rio-rio kandi
Yang masak yang masam, yang muda yang manis

(Harmsen, 1876)

Lantai ditembak, iduang nan kanai.
Lantai ditembak, hidung yang kena

d. Garah dalam bentuk penceritaan:

Seorang ibu menstop sebuah oplet berisi para pemburu dengan anjingnya. Setelah oplet berhenti, si ibu tak jadi naik. Sopirnya bertanya, kenapa tak jadi naik. Jawab si ibu bagarah:

+ Isinyo sadonyo anjiang. (Isinya semuanya anjing)

Seorang bapak turun dari bus. Kneknya menanyakan di mana diletakkan barang bawaan si bapak, di atas atap bus atau di ditempat barang di bawah, padahal bapak itu tidak membawa apapun dan penumpang lain tahu akan hal itu.

- Di ma barang apak? (Di mana barang bapak?)
+ Barang den di bawah (Barang saya di bawah)

Semua penumpang tertawa, karena “barang” dimaksudkan bapak yang jenaka itu adalah memang satu-satunya milik pribadi yang paling berharga.

3. Cimeeh (cemooh) â€“ senda gurau yang digunakan untuk mengeritik sesuatu atau menegur tingkah laku seseorang yang tidak pantas secara tidak langsung.
Cimeeh atau cemooh dapat dikatakan sebagai manifestasi dari daya kritis masyarakat Minangkabau yang diungkapkan dengan jenaka.

a. Cimeeh dalam bentuk pantun

Kuciang balang baranak balang
Bagolek-golek diateh niru
Urang gaek mancilok lamang
Luko bibienyo dek sambilu.

Kucing belang beranak belang
Bergolek-golek di atas niru
Urang tua mencuri lemang
Luka bibirnya kena sembilu

b. Cimeeh dalam bentuk pemeo

Tabali lado pagi 
Terbeli lada pagi
(seorang yang terburu-buru membeli sesuatu yang ternyata sorenya harga barang itu jadi murah)

Pulang pai babasah-basah
Pulang pergi berbasah-basah

(ke mana-mana selalu berhutang)

Sudah cakak takana silek
Selesai berkelahi baru teringat silat
(Maksud sesungguhnya; orang yang tidak siap menerima keadaan yang tiba-tiba)

c. Cimeeh dalam dialog sehari-hari

+ Baa inyo kini? Bagaimana dia sekarang?
- Maambuih nasi dingin. Meniup nasi dingin. (sakit sesak nafas )
+ Baa kok indak banyak bana kecek nyo kini?
Kenapa sekarang dia tidak banyak mulut?
- Dilapua ayam batino.
Diterjang ayam betina.. (takut pada istri).

Dalam pembicaraan ini saya memakai kata jenaka untuk ketiga macam jenaka di atas, guna memusatkan perhatian pada beberapa aspek kejenakaannya.

Masih ada kata lain yang dapat dipadankan dengan kata jenaka, yaitu lucu atau lawak.
Namun kedua kata itu tidaklah merupakan kosa kata Minangkabau.
Kedua kata itu dikenal kemudian karena pengayaan bahasa yang terus berlangsung dalam bahasa Indonesia.

Selain kata garah ada kosa kata Minang lain yang hampir sama artinya; gurau.

Tetapi kata gurau lebih kepada percandaan, berolok-olok.
Sebuah acara orang-orang muda berbalas pantun diiringi tiupan saluang dengan berbagai selingan pantun-pantun jenaka, disebut pula bagurau, dan tidak tepat kalau disebut bagarah.

III.Tema Tema Jenaka

Jenaka atau sesuatu perbuatan atau perkataan yang dapat menimbulkan orang lain merasa geli, tersenyum atau tertawa, mempunyai batas-batas tertentu.
Bagi orang Minangkabau, tidak semua yang dapat membuat orang tertawa dapat dimasukkan dalam kategori jenaka.

Orang yang tertawa karena melihat seseorang membuat kesalahan atau kekeliruan, bukanlah sesuatu yang jenaka.
Itu namanya menghina, mentertawakan kesalahan orang lain.

Orang yang memperlihatkan kebodohannya, lalu orang lain tertawa melihat kebodohan itu bukanlah jenaka.

Begitu juga, orang yang mentertawakan dirinya sendiri, walau tampak jenaka, bukan sesuatu yang jenaka.

Orang yang suka tertawa sendiri, mungkin sekali orang itu, orang gila.
Orang gila tidak untuk ditertawakan.

Sebuah peristiwa jenaka terjadi apabila ada hubungan timbal balik antara si pejenaka dengan pendengarnya, adanya rapport, baik sendiri maupun sebuah kumpulan. 
Sebuah peristiwa jenaka tidak dapat disebut jenaka apabila sipejenaka saja yang merasa jenaka, sedang pendengarnya tidak merasakannya sebagai sesuatu yang jenaka.
Tetapi dapat pula terjadi sebaliknya, sipejanaka tidak merasa berjenaka, tetapi pendengar atau penontonnya menganggapnya sebagai sebuah peristiwa jenaka.

Hal ini dapat dilihat pada beberapa acara yang sering ditayangkan televisi hasil rekaman camera tersembunyi atau hidden camera.

Hubungan timbal balik antara si pejenaka dengan orang lain yang terlibat dalam peristiwa jenaka itu dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain; adanya pengertian yang sama terhadap kata, ungkapan atau idiom-idiom yang sama, dialek yang sama-sama dipahami, citarasa yang sama, simbol-simbol yang sama, dan juga cara berpikir yang sama serta tingkah laku yang dapat dipahami bersama.

Sebuah peristiwa jenaka sangat terikat dengan situasi dan kondisi-kondisi lingkungan.

Oleh karena itu, sesuatu yang dianggap jenaka oleh masyarakat Minangkabau, belum tentu jenaka juga bagi komunitas sosial yang lain.
Barangkali, itulah pula sebabnya, kenapa sebuah jenaka sulit untuk menjadi milik seluruh kaum atau etnik.

Banyak pertunjukan jenaka baik di televisi atau di pentas-pentas khusus yang mempertunjukkan jenaka sering menghasilkan sesuatu yang tak terduga.

Pejenaka yang sukses di Jakarta, sesampainya di Medan gagal.
Jenaka Minangkabau sering tak membuat orang Melayu Malaysia merasa jenaka, begitupun sebaliknya.

Orang Minang tersenyum jenaka ketika melihat tulisan pada sebuah kedai di Kualalumpur; Di sinipokok untuk dijual.
Bagi orang Minang menjual pokok sama artinya menjual modal atau bangkrut.

Orang Malaysia merasa jenaka bila mendengar orang Minang selalu berkata dengan serius;pokoknya yang bermaksud “pada dasarnya”.
Karena pokok bagi orang Melayu Malaysia dapat menghasilkan buah dan boleh ditebang.

Duduk dalam bandar bagi orang Melayu suatu kebanggaan, tapi orang Minang tidak mau duduk dalam bandar karena dapat membuat celananya basah sampai ke dalam.

Namun begitu, jenaka dari suatu etnik dapat saja sama dengan jenaka pada etnik lain.
Hal disebabkan oleh; rasa bahasa yang sama, tema yang sama, persoalan yang sama.

Banyak jenaka Melayu yang sama dengan jenaka Minang, jenaka Minang sama dengan jenaka Jawa misalnya. Karena banyak kesamaan, timbul kesulitan mencari sumber asal dari mana sebuah jenaka bermula.

Hal yang sama juga berlaku pada mencari asal-usul cerita-cerita rakyat.
Misalnya, ada kaba Malin Deman di Minangkabau, ada pula cerita Malim Deman di Malaysia, atau Jaka Tarub di Jawa.
Kaba Anggun Nan Tongga di Minangkabau, Hikayat Anggun Cik Tungga di Malaysia.
Malin Kudang di Minangkabau, Sampuraga di Tapanuli, Si Tenggang di Malaysia dan lainnya.

IV.Fungsi Jenaka

Berbagai macam, corak, gaya dan tema jenaka yang beredar dan hidup dalam hampir semua lapisan masyakarat Minangkabau, semuanya ditujukan untuk berbagai keperluan.

Jenaka mempunyai banyak kegunaan dan fungsi. 
Secara sepintas, orang berjenaka atau kejenakaan tampak tidak begitu penting, tetapi dalam hal-hal tertentu jenaka dapat mengganti nasehat-nasehat yang biasanya disampaikan para penghulu atau ulama secara formal di balai-balai adat, di persidangan adat maupun di mimbar-mimbar masjid.

Jenaka memang tidak mutlak dapat sebagai pengganti nasehat, tetapi nasehat dapat diberikan secara jenaka. Beberapa fungsi jenaka, antara lain;

1. Untuk menghibur diri, pelipur lara atau bersuka-suka.

Mereka yang telah bekerja seharian baik di ladang maupun di sawah, biasanya beristirahat di lapau atau kedai-kedai kopi.
Rumah bagi masyarakat Minang bukan tempat istirahat, hanya untuk tempat tidur. Apalagi kalau rumah itu rumah gadang dengan konstelasi sistem kekerabatan matrilineal, tidak memungkinkan rumah bagi lelaki, apakah dia sebagai mamak apalagi semenda untuk menjadikannya untuk tempat istirahat.

Lepau, surau, masjid adalah tempat mereka istirahat sebelum pulang ke rumah.
Di lepau-lepau itu mereka berjumpa kawan-kawannya, orang sekampung lainnya, tempat mereka bercanda, berjenaka.
Karena itu peranan lapau atau kedai kopi sangat penting dalam masyarakat Minangkabau.

Lepau tak dibuat berdasarkan perhitungan ekonomi, jual beli dan perdagangan semata, tetapi sebagai pusat informasi, sarana adu pendapat, tempat berjenaka, baik dalam bentuk pembicaraan-pembicaraan spontan maupun dalam pantun-pantun.

Itulah sebabnya, setiap laki-laki Minang, mulai saja dia remaja dan bahkan sampai tua, lepau bagi mereka adalah terminal.
Lelaki Minang yang tidak pernah ke lepau, dia tidak akan berjumpa dengan orang berjenaka atau bersilat lidah.

Dalam bentuk penceritaan

Ketika Columbus mendarat di pantai Amerika, dua orang Pariaman yang telah lebih dulu datang ke sana, terkejut dan segera memanggil temannya yang sedang memancing.

“Mek siko!” Mek kemari! (ada orang datang, dia terpaksa memanggil temannya itu).

Columbus mendengar panggilan itu dan langsung menamakannya Meksiko.

(Dari Zatako, wartawan/penyair)

Dalam bentuk pantun:

Antah modang antah tapai
Bapuluik-puluik kuahnyo
Antah lamang antah tapai
Jangguik lah kuyuik dek kuahnyo

Entah madang entah tapai
Berpulut-pulut kuahnya
Entah lemang entah tapai
Jenggot lah kuyup kena kuahnya

Anak urang di Kampuang Baruah
Nak lalu ka Aie Angek
Mandanga durian jatuah
Malonjak-lonjak lamang angek

Anak orang di Kampung Baruh
Hendak lalu ke Aie Angek
Mendengar durian jatuh
Melonjak-lonjak lemang panas
(Edwar Djamaris, 1980)

2. Untuk mengiringi tari-tarian.

Tarian tradisi Minang, selain diiringi oleh musik, juga diiringi dengan nyanyian, seperti Tari Tupai Janjang dan Tari Buai-buai. Tarian-tarian ini ditarikan oleh lelaki saja dan penontonnya duduk melingkar bernyanyi bersama. 
Pantun-pantun yang mereka nyanyikan mengandung jenaka. 
Jadinya, mereka menonton sambil menyanyi dan tertawa gembira.

Nyanyian pengiring Tari Tupai Janjang:

Kok berang ayah ka denai
Di hukum pancuang den lai namuah
Pancuanglah sabatang tabu junjuang

Di hukum gantuang buliah juo
Gantuangkan ka tandan pisang masak

Di hukum banam den namuah juo
Banam ka dalam pariuak barisi kolak

Hukuman buang lai buliah juo
Buang ka puncak kue bolu

Hukuman tembak den namuah juo
Tembaklah jo mariam lamang sabatang
Bapiluru ondeh-ondeh

Jika marah ayah pada saya
Dihukum pancung sama mau
Pancunglah sebatang tebu junjung
Dihukum gantung boleh juga
Gantungkan ke tandan pisang masak
Dihukum benam saya mau juga
Benamkan ke dalam periuk barisi kolak
Hukuman tembak saya mau juga
Tembaklah dengan meriam lemang sebatang
Belurunya onde-onde

(Arby Samah 1983)

3. Untuk menegur, mengeritik sesuatu yang kurang baik atau yang tidak disukai.

Berbagai persoalan yang kurang baik atau yang tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan selalu mereka ungkapkan dengan pecandaan. 
Pada suatu ketika orang Minang dipaksa memilih partai tertentu dalam suatu pemilihan umum.

Mereka tidak suka dipaksa, tetapi mereka tidak mau berterus terang mengemukakan keberatannya.

Mungkin karena takut atau karena ditekan sedemikian rupa.
Lalu, mereka membuat percandaan yang membuat seorang pegawai tinggi pemerintah merah muka, karena tidak ada alasan untuk marah kepada mereka yang bercanda.

Setelah seorang Bupati (Kepala Daerah) bicara penuh semangat kepada orang-orang yang duduk di lepau tentang kebaikan sebuah partai dan sepantasnya partai itulah yang harus dipilih dan dimenangkan, sedangkan partai-partai lain tidak perlu dipilih, seorang tua yang menyimak saja sejak tadi bertanya.

“Pak Bupati. Haruskah kami bertepuk tangan, kalau kuda yang berpancu itu hanya seekor?”

Kritik terhadap perubahan kelakuan seseorang dalam bentuk teka-teki.

+ Kenapa laki-laki Minang suka berkelahi dan berteriak-teriak sewaktu menonton pertandingan bola kaki?

- Karena di rumahnya dia tidak berani berkelahi dan berteriak-teriak di depan istrinya.

4. Untuk memperluas wawasan dan mempertajam pikiran.

Memperluas wawasan dan mempertajam pikiran dapat juga dilakukan dengan jenaka dan sambil bersenda gurau.
Biasanya hal ini sering di lakukan di surau-surau, sesama mereka yang sedang belajar mengaji, dalam bentuk pantun dan teka-teki.

Dalam bentuk pantun teka-teki:

Biduak kaia mambao sapek
Sapek dijua nak rang Solok
Makan dilauik muntah didarek
Kok tahu cubolah takok.

Biduk kail membawa sepat
Sepat dijual orang Solok
Makan di laut muntah di darat
Kalau tahu cobalah terka.

(A.A.Navis, 1986)

Dalam bentuk teka-teki

Seorang anak bertanya kepada serombongan burung yang terbang di atasnya. 
“Banyak sekali kamu,” seru anak itu.
Lalu burung itu menjawab. 
“Belum. Kalau ditambah sebanyak ini lagi, ditambah pula sebanyak ini lagi dan ditambah dengan seorang ibu kami, baru jumlah seratus”.
Berapa jumlah burung dalam rombongan itu?

Dalam bentuk dialek, penekanan suku kata

+ Bara kaki kuciang balang tigo?
Berapa kaki kucing belang tiga?
- Ampek. Empat
+ Kaki kuciang balang, tigo?
Kaki kucing belang, tiga?
- Duo baleh
- Dua belas

Masyarakat Minangkabau, atau mungkin sekali masyarakat pada umumnya atau manusia secara keseluruhannya, di manapun juga, selalu mencari saluran atau ventilasi untuk melepaskan tekanan-tekanan batin yang dialami.

Tekanan-tekanan tersebut mungkin berupa kondisi-kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial politik yang kacau balau, atau kondisi-kondisi yang secara langsung atau tidak langsung dapat membuat mereka tertekan, takut, marah, mual, benci dan segala perasaan lainnya.

Menurut sesetengah pakar sosio-linguistik, jenaka banyak muncul di negara-negara otoriter.
Semakin kuat tekanan pemerintahan, semakin banyak jenaka muncul.
Rusia paling banyak mengeluarkan jenaka. Salah satu buku yang terbit di Indonesia bertajuk Mati Ketawa Cara Rusia merupakan jenaka-jenaka terjemahan yang laris di pasaran.

Ketika orang Minangkabau dijajah Belanda, kebencian pada penjajah itu diungkapkan dengan jenaka melalui petuah, teka-teki, dan pantun-pantun

- Petuah

Orang yang bermata biru tidak dapat dipercaya.

(Umar Junus, 1997)

- Teka-teki

Pertanyaan; Ula nan paliang gadang. (Ular yang paling besar).
Jawabnya: Ula ndo (Belanda).

Pertanyaan: Kuman nan paliang jahek (Kuman yang paling jahat),
Jawabnya; Kuman dua. (Engku Mandor, pegawai Belanda)
(R.Chadwijk: Vernicular…. Buku di rumah)

- Ketika semangat kemerdekaan sedang membakar dada orang Minang, timbul jenaka dalam bentuk teka-teki yang lain;

Pertanyaan: Bom jatuah bandera tagak.
Bom jatuh bendera tegak

Jawabnya: Kabau tacirik.Kerbau berak

- Pantun

Sajak pabirik di Indaruang
Lori bajalan ateh kawek.
Sajak paningga mande kanduang
Nasi dimintak sumpah nan dapek.

Sejak pabrik di Indarung
Lori berjalan di atas kawat
Sejak meninggal ibu kandung
Nasi dimintak sumpah yang dapat

Begitu juga ketika rezim Orde Baru begitu kuatnya berkuasa.
Banyak lahir jenaka berupa baik jenaka yang bertema politik maupun kritik terhadap tokoh-tokoh politik tertentu.

Jenaka yang berisi kritik.

Beberapa mahasiswa Akademi Ilmu Al-Quran yang telah hafal Al-Quran diperkenalkan kepada menteri agama.
+ Bapak Menteri. Inilah mahasiswa kita yang sudah hafal Al-Quran sebanyak 30 juz.
- Bagus. Juz-juz yang lain bila? (Dari D.Zawawi Imron, penyair dan ulama)

Ketika larangan berkumpul dan penangkapan-penangkapan terjadi di Indonesia, orang-orang berjenaka dengan teka-teki.
Pertanyaan: Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,manusia mati meninggalkan nama. Cacing mati?
Jawabannya: Meninggalkan kawan-kawan seperjuangan.


Artikel Terkait