Makam Siti Nurbaya

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 10 May, 2014 | Dibaca: 1093 | Nomor Artikel: #0303
Sarankan Laporkan Print Favorit

Jika Tuan dan Nyonya sempat bertandang ke ” Kota Padang ” sempatkan lah untuk berkunjung ke Gunuang Padang. Konon di sana naga bersarang.

Gunuang Padang Kala Mendung

Wajar saja ,, sebab lokasi Gunuang Padang memang dekat dengan pemukiman pecinan (Kampuang Cino) Kota Padang, nan akrab dengan legenda babah liong alias naga.


Kampuang Cino Kota Padang

***

Dahulu, Belanda mengadakan kongsi dagang dengan orang Cina di Kota Padang. Konon Bagindo Sulaiman ” ayah Siti Nurbaya ” juga memiliki banyak toko di kawasan ini. Toko-toko tersebut kemudian dibakar oleh anak buah Datuak Maringgih, yang hendak menjebak Bagindo Sulaiman dalam lilitan utang Agar kemudian dia dapat mempersunting Siti Nurbaya sebagai istri ke-4 (Malangnya ,, rencana busuk berhasil !! 

Di kawasan ini juga terdapat pelabuhan laut sekunder Kota Padang ” Pelabuhan Muaro. Jika Tuan dan Nyonya hendak bertamasya ke Pulau Sikuai, Tuan dan Nyonya harus naik kapal dari sini. Jika mujur, maka dalam 6 jam akan sampai di Kepulauan Mentawai ” namun jika sedang naas cuaca buruk, bisa saja Tuan dan Nyonya terdampar di Madagaskar (indak baduto bagai ambo doh ,, :p).


Pelabuhan Muaro, Kota Padang

***

Kami perkenalkan juga sebuah teknologi struktur terbaru ” Jembatan Siti Nurbaya” penghubung antara Kampuang Cino dengan makam leluhur mereka di Gunuang Padang. Sayangnya ,, kawasan kuburan cina Kota Padang sempat terbakar akibat kebakaran ilalang kering musim kemarau. Belum lagi ,, penjarahan makam nan dilakukan oleh orang pribumi (buek malu urang awak ,, huh !! <_<)


Jembatan Siti Nurbaya


Jembatan Siti Nurbaya Kala Malam

***

Menjelang tiba di Makam Siti Nurbaya, Tuan dan Nyonya akan melewati Taman Siti Nurbaya dengan berjalan kaki. Konon di sini Siti Nurbaya dan Samsul Bahri bapole (pacaran.red) sambil menarikanTari Urak Langkah ,, o_O


Taman Siti Nurbaya

***

Siti Nurbaya (Siti Noerbaja) adalah novel karya Marah Roesli (kakek dari alm. Harry Roesli) pada tahun 1930 angkatan Balai Pustaka. Kisah cinta dua anak manusia” Siti Nurbaya dan Samsul Bahri (Sjamsoel Bachrie) ” nan tak sampai karena kondisi saat itu. Siti Nurbaya akhirnya bunuh diri dan dimakamkan di Gunuang Padang.


Jalan Menuju Makam Siti Nurbaya

Di makam Siti Nurbaya, Samsul Bahri memahat sajak cinta :

Adiak mandi, denai manyauak
Nak sasumua kito baduo

Adiak masak, denai manyanduak
Nak sadapua kito baduo

Adiak lalok, denai mangantuak
Nak sakasua kito baduo

Adiak mati, denai ramuak
Nak sakubua kito baduo

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman anda di Facebook, MySpace, Twitter, Digg, dll. Silahkan klik logo  Facebook dan Twitter di atas,Terima kasih.

Artikel Terkait