Pacu "Kudo" Bangkitkan Pariwisata Lokal

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 10 May, 2014 | Dibaca: 843 | Nomor Artikel: #0302
Sarankan Laporkan Print Favorit

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT

Peserta pacu kudo saling mengejar untuk mencapai posisi terdepan dalam acara pacu kudo (kuda) di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Senin (8/2/2010). Pacu kudo ini digelar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar yang memiliki tradisi dengan kuda. Acara ini turut menggerakkan kegiatan pariwisata lokal.

PAYAKUMBUH, KOMPAS - Pacu kudo (kuda) di Sumatera Barat efektif membangkitkan pariwisata di tingkat lokal. Masyarakat menikmati hal itu sebagai kegiatan budaya dan hiburan.

Pacu kudo bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga agenda pariwisata Sumatera Barat.

Fenomena itu tidak sejalan dengan kenyataan di pesisir barat Sumbar, terutama di sekitar Padang. Kegiatan pariwisata cenderung sepi setelah gempa baru-baru ini. Turis domestik enggan mendatangi tempat wisata di sekitar Padang karena trauma dengan bencana gempa ataupun tsunami.

”Pacu kudo bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga agenda pariwisata Sumatera Barat. Buktinya, masyarakat sangat antusias ketika kegiatan ini digelar di sejumlah daerah,” tutur panitia pelaksana pacu kudo, Busrizal Djafar, Senin (8/2/2010) di Payakumbuh.

Sejak Minggu (7/2/2010), Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pemerintah Kota Payakumbuh menggelar pacu kudo. Acara tersebut, menurut Busrizal Djafar, mempertemukan 200 kuda dari Sumbar, Sumatera Utara, dan Riau. Selama dua hari panitia menggelar 14 kali balapan di area pacuan kuda. Selama itu pula masyarakat terus memadati arena pacuan untuk memeriahkan acara.

Busrizal Djafar mengaku puas dengan kegiatan tersebut. Pacu kudo digelar bergiliran di sejumlah daerah di Sumbar, di antaranya Payakumbuh, Padang Panjang, Pariaman, Tanah Datar, dan Solok. Seluruh daerah itu memiliki tradisi yang erat hubungannya dengan kuda.

Pacu kudo telah berjalan sejak masa penjajahan Belanda di Sumatera. Kegiatan tersebut dipelopori sejumlah pemilik bendi (kereta kuda). ”Saat itu pacu kudo dipertandingkan tanpa memakai pelana. Kini pacuan diperbarui dengan menggunakan pelana. Ini sekaligus menggairahkan peternakan kuda yang ada di Sumbar,” kata Busrizal Djafar.

Joneldi (34), warga Kota Payakumbuh, mengaku terhibur dengan kegiatan itu. Dia sengaja datang ke arena pacuan bersama dua anak dan istrinya kemarin. Tiket masuk arena yang harganya Rp 5.000 per orang bukan merupakan halangan. Joneldi bahkan menyempatkan melihat pacu kudo di tempat lain yang tidak jauh dari Payakumbuh.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar James Hellyward, kegiatan pariwisata di Sumbar akan berjalan baik jika masyarakat tidak termakan isu negatif. ”Jika sejumlah tempat wisata di pantai barat, terutama di sekitar Padang, belakangan ini sepi pengunjung, kemungkinan hal itu akibat turis termakan isu bencana susulan setelah gempa 30 September 2009,” katanya. (Andy Riza Hidayat)

Artikel Terkait