Papatah Patitih Minang R/S

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 11 Dec, 2015 | Dibaca: 1189 | Nomor Artikel: #0267
Sarankan Laporkan Print Favorit

R

1.Rabuik rampeh

Adalah suatu perbuatan yang merebut dan merampas secara paksa milik orang lain, kemudian melarikan diri


2.Rajo Tigo Selo .

Kekuasaan raja dibagi tiga, antara lain

1.Rajo Alam di Pagaruyung, yang memegang tampuk pemerintahan.

2.Raja Adat di Buo, yang memegang tampuk Undang-undang dan Hukum

3.Raja Ibadat di Sumpur Kudus, yang memegang tampuk urusan Agama


3.Rangkiang

Tempat menyimpan padi

Rangkiang Sitinjau lauik,

panati pincalang masuak

Rangkiang Satangga Lapa,

Panenggang urang dalam kampuang katiko musim gantuang tungku.

Rangkiang Sibayau-bayau,

Untuk persiapan jangka panen berikutnya


4.Rang Sumando

Seorang laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan dari suku lainnya. Dari pihak keluarga perempuan laki-laki itu disebut rang sumando (urang sumando atau dapat disebut juga "mato banyiah– atau "bapak rumah".


5.Rang Sumando Bapusako

Ini menunjukkan sifat Rang Sumando yang arif bijaksana, bersifat menyelesai, bertindak adil, tidak berpihak,  menegakkan kebenaran dan selalu menjaga aturan-aturan yang berlaku, tidak suka melanggaģ adat.


6.Rang Sumando Kacang miang

Rang Sumando jenis ini selalu mengganggu dikampung orang, ia suka menyusahkan orang lain, suka menghasut dan tidak segan-segan mengadu domba pihak keluarga istrinya ataupun orang di kampungnya.


7.Rang Sumando Kutu dapua

Ialah Rang Sumando yang selalu melakukan pekerjaan yang tidak ber-manfaat, pemalas dan tidak bisa memberika

nafkah hidup bagi istri dan anak-anaknya sehingga dia merasa rendah diri dan tidak berani duduk bersama dengan  orang banyak sehingga dijuluki sebagai "kutu dapur".


8.Rang Sumando Langau hijau

Ialah Rang sumando yang busuk hati, suka perbuatan memfitnah suka membuat malu orang lain, orang ini sangat menjijikkan sekali dalam pergaulan, sehingga diibaratkan dengar lalat hijau (binatang yang suka makan kotoran).


9.Rang Sumando Lapiak buruak

Ialah Rang Sumando yang tidak pandai bergaul dalam masyarakat ataupun dilingkungan keluarga istrinya. Ia tinggal  dirumah saja dengan istrinya dan tidak mau tahu dengan urusan orang lain yang patut dia ikut serta.


10.Rundiangan

Ruandiang ( =Rundingan ) adalah suatu pembicaraan yang menghasilkan suatu maksud.

Ada tiga macam rundiangan :

  1. Rundiangan Basimanih, ialah rundiangan nan lalamak-lamak manih, lamak bak santan jo tangguli, sakali rundiang disabuik takana juo salamonyo. Artinya perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang baik dan manis, menarik hati orang dan mudah untuk membawa orang kepada suatu pengertian dan kebenaran yang sesungguhnya.
  2. Rundiangan basiginyang, ialah rundiangan nan tagang-tagang kandua, rundiangan nan tinggi-tinggi randah, bak maelo tali jalo, agak tagang dikanduri, jikok kandua ditagangi, diam dikato nan sadang elok. Artinya perkataan  perkataan dalam pergaulan sehari-hari yang selalu bisa menaklukkan orang yang menyimpang dari jalan yang benar. Pembicaraan ini tidak menghendaki  tindakan yang keras, hanya cukup untuk menundukkan seseorang  dengan perkataan yang baik, lunak lembut.
  3. Rundingan basiransang, banyak andai jo kacindan, sarato guluik jo galusang, ka lalu raso ka tasabuik, kasuruik jalan tarantang, ditampuah juo kasudahannyo. ArtinyaPembicaraan yang ragu dan tidak tegas dalam suatu persoalan.


11. Rarak kalikih dek minalu, tumbuah sarumpun jo kayu kalek. Kok habih raso jo malu bak kayu lungga pangabek.

Kalau rasa malu telah hilang dari manusia, maka manusia itu sulit untuk diarahkan kepada kebaikan, dan sulit untuk menyusun masyarakat.


12. Ratak indak mambao caro, rannyuak nan indak mambao hilang.

Persengketaan dalam rumah tangga dan keluarga, jangan mengakibatkan putusnya hubungan kekeluargaan.


13. Rumah tampak jalan indak tantu, angan lalu faham tatumbuak.

Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu, tetapi tidak mendapat jalan dan pengetahuan untuk mencapainya.


14. Raso aia kapamatang, raso minyak kakuali, nan bakabek rasan tali, nan babungkuih rasan daun.

Seseorang yang mempunyai hubungan kekeluargaan, sedarah, sekampung, senagari, senegara, dia akan selalu berpihak dalam pembelaan keluarga.


15. Rumah indak batungganai, kappa nan indak banangkodoh.

Masyarakat atau keluarga yang tidak mempunyai pemimpin, sama halnya seumpama kapal tanpa nakhoda.


16. Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, kalau dikumpa saleba kuku jikok dikambang saleba alam.

Ajaran adat Minangkabau akan dapat dimamfaatkan untuk mengatur masyarakat, semenjak dari yang kecil seperti keluarga, sampai kepada yang lebih besar seperti negara dan dunia.


17. Riwayaik jambi lah tasabuik, panjang tajelo disilukah, barih balabeh mangkonyo cukuik, sampai ka hulu baru sudah.

Ajaran adat Minangkabau dengan segala persoalannya dapat dipahami apabila didalami. Adat sebagai kebudayaan dan adat sebagai budi pekerti.


18. Rupo mangatokan harago, kurenah manunjuakan laku, walau nan lahia tampak dek mato, nan bathin tasimpan dalam itu.

Kalau dipelajari ajaran adat yang dihimpun dalam pepatah petitih, mamang dan bidal, mengandung arti lahir dan bathin.


19. Raso dibaok naiak, pareso dibaok turun.

Pembinaan pribadi yang baik hendaklah dimulai dalam lingkungan anak kemenakan.


20. Raso kabarek dilapehkan, raso kasulik dielakkan, bak cando mangganggam baro.

Seseorang yang tidak bertanggung jawab kepada tugas dan kewajibannya.


S

21.Sadalam-dalam payo sa hinggo dado tiek, salaweh kuaso urang sumando sahinggo pintu biliek.

Orang semenda sedikit sekali kuasanya dalam rumah tangganya


22.Sadanciang bak basi, saciok bak ayam

Putusan yang diambil secara bersama dan dipatuhi serta dijalankan bersama-sama pula satu nada satu irama.


23.Sahino Samalu

Kehidupan kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat. Jarak antara"kau dan aku" menjadi hampir tidak ada. Istilah "awak"menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan cara "awak samo awak", semuanya akan menjadi mudah. Kedekatan hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu, melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.

Kalau seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.


24.Saitik saayam, sasakik sasanang, sahino samalu

Persahabatan dan kekerabatan yang tulus


25.Sarak babuhua mati.

Dalam adat Minangkabau yang bertitik tolak dari adat bersendi Sarak, sarak bersendi Kitabullah telah memberi tahukan bahwa masalah apa yang ter-kandung dalam Al-Qur'an tidak boleh dirubah sedikitpun walau sebuah titik atau sebuah barispun juga. Karena perubahan atas Al-Qur'an tidak diperbolehkan dan memang tidak satupun orang yang berani merubahnya.  Oleh sebab itu para Ulama diikutsertakan dalam mufakat adat untuk menjaga kalau masalah Al-Qur'an terlanggar dalam kerapatan adat. Ninik mamak Alim Ulama merupa-kan kesatuan dalam keputusan adat.


26.Sarak batilanjang Adat basisampiang

Sarak batilanjang Adat basisampiang artinya Syarak menyapai kan sesatu secara tegas dan tepat,Adat menyampai kan nya secara kiasan atau sindiran.


27.Sarak bakato adaik mamakai

Peraturan dari Kitabullah, adat melaksanakan..


28.Silang pangka cakak, sangketo pangkar parang

Perselisihan itu pangkal perkelahian, sengketa itu pangkal perang


29.Singok Nan Bagisia.

Adalah batas-batas dengan tetangga baik tetangga perumahan maupun tetangga sawah, lading, lurah, kolam  pandam pakuburan. Batas-batas ini tidak boleh terlanggar satu sama lain, kalau ini terlangga maka kita akan dicap oleh masyarakat tidak beradat.


30.Sumbang salah

Suatu perbuatan menggauli orang lain yang tidak boleh dinikahi seperti perzinaan dengan istri orang lain atau orang-orang yang tidak pantas dinikahi.


31. Surang makan cubadak, sadonyo kanai gatahnyo, saikua kabau bakubang sakandang kanai luluaknyo.

Sesuatu perbuatan yang tercela menurut adat dan agama di Minangkabau yang dikerjakan oleh seorang anggota masyarakat, maka malu dirasakan oleh seluruh anggota kaum yang lain.


32. Sio-sio- nagari alah, kalau cilako utang tumbuah.

Pekerjaan yang sia-sia dan berbahaya akan mengakibatkan kerugian bersama, berbuat salah mengakibatkan terjadinya hutang.


33. Sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan.

Kalau sayang kepada anak jangan dibiarkan dia mengerjakan yang tidak baik, harus dimarahi. Kalau cinta sama kampung harus ditinggalkan untuk mencari pengetahuan untuk disumbangkan akhirnya kelak.


34. Sadang manyalam minum aia, sadang badiang nasi masak.

Sesuatu pekerjaan yang dapat dikerjakan sambil lalu, dengan tidak mengurangi kepada pekerjaan yang sedang dilakukan.


35 Senteang bilai mambilai, panjang karek mangarek.

Hendaklah memberikan pertolongan kepada teman yang sedang dalam kesusahan, dan memberi nasehat kalau dia terlanjur.


36. Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang.

Berusahalah dengan dasar pengetahuan yang ada untuk melanjutkan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi.


37. Suri tagantuang ditanuni, luak taganang kito sauak.

Tentang ajaran adat yang secara mutlak dilaksanakan, tanpa dimusyawarahkan.


38. Sakalam kalam hari sabuah bintang bacahayo juo.

Tidak seluruh orang keluar dari garis kebenaran, sekurang-kurangnya satu orang ada yang menegakkannya.


39. Sabanta sakalang hulu, salapiak sakatiduran.

Dua orang berteman secara akrab yang sulit untuk dipisahkan.


40. Sandi banamo alua adat, tonggak banamo kasandaran.

Hikmah rumah adat di Minangkabau, yang sendinya kebenaran bersama, sandaran kuat hukum adatnya.


41. Sapikua Sajinjiang

Dalam masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama. Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing. Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu membantu, saling dukung mendukung. Dengan masyarakat nan sakato ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.


42. Sasiuak namuah ka api, salewai namuah ka aia.

Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak baik.


43. Satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang kaujian, salamo hiduik urang indak picayo.

Haruslah bersifat jujur dan benar dalam pergaulan, kalau kelihatan kecurangan satu kali selamanya orang tidak percaya lagi.


44. Syarak banamo lazim, adat nan banamo kewi, habih tahun baganti musim, buatan nan usah diubahi.

Bagaimanapun kesulitan yang dihadapi, kesengsaraan yang dialami, tetapi keputusan bersama jangan dirobah.


45. Siang manjadi tungkek, malam manjadi kalang.

Hendaklah pegang dan amalkan setiap pelajaran yang baik dan nasehat orang tua.


46. Sungguahlah kokoh adat Minang, mambuek adat jo limbago, malangnyo panjajah datang, rusaklah adat dibueknyo.

Adat Minang yang kuat dan kokoh dulunya telah banyak dirusak oleh penjajah di zaman lampau.


47. Satuntuang tabu dek ulek, satuntuang sajo kito buang.

Seorang berbuat salah jangan semua keluarga dibenci.


48. Sirauik tajam batimba, tak ujuang pangka manganai, sudu-sudu batimba jalan, ditakiak kanai gatahnyo. Kalauik tuah takaba, bumi jo langik nan mananai. Duduak di kampuang jan umbilan, kandang buek tumpuan tanyo.

Seharusnya setiap orang Minangkabau mengetahui tentang seluk beluk filsafat adatnya, karena semua bangsa mengenal keunikan adat Minangkabau itu, terutama tentang sistim kekerabatannya dan matrilinialnya.


49. Siriahlah pulang kagagang, pinanglah suruik katampuaknyo. Karih baliak kasaruangnyo, baju tasaruang ka nan punyo, ameh pulang katambangnyo.

Suatu benda berharga yang sudah lama tidak ditemui, sekarang kembali kepada yang empunya semula, seperti merebut tanah air dari tangan penjajah, sampai kita merdeka.


50. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, tidak didalam dihalusi.

Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah, dan kurang mamfaatnya dengan mendengar saja, kalau dibandingkan dengan belajar sesungguhnya.


51. Sabab karano dek baitu, tumbuahlah niaik dalam hati, nak manuruik tambo nan dahulu sajarah adat nan usali.

Kalau ajaran adat telah dapat dipahami kemana masyarakat hendak dibawa oleh ajaran adat itu maka akan timbullah hasrat untuk mendalamnya.


52. Sangajo guno diuraikan, kahadapan nan basamo, untuak nak samo dipikiakan, nak samo dirunuak nan tujuan.

Penggugah hati para pembaca terutama putra Minang untuk mendalami filsafat adatnya.


53. Satinggi-tinggi malantiang, mambubuang ka awang-awang, suruiknyo katanah juo. Sahabih dahan jo rantiang, dikubak dikulik batang, tareh panguba barunyo nyato.

Adat Minangkabau tidak akan bisa dipahami secara baik, apalagi untuk dihayati dan diamalkan tanpa mendalami sungguh-sungguh.


54. Santan babaleh jo tubo, nikmat babaleh jo sansaro.

Kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada orang lain, tetapi balasannya dengan yang buruk.


55. Saumpamo aua jo tabiang, umpamo ikan jo aia.

Pergaulan yang baik saling bantu membantu dan kuat menguatkan, dan saling membutuhkan.


56. Sikujua baladang kapeh, kambanglah bungo karawitan. Kok mujua mandeh malapeh bak ayam pulang kapautan.

Setiap orang pergi merantau mengharapkan kehidupan yang baik dan pendapatan yang akan dibawa kekampung halaman.


57. Samo bapokok babalanjo, samo bajariah bausaho.

Cara yang baik dalam menegakkan usaha dalam pertanian, perdagangan dsb.


58. Surang bajariah bausaho, surang bapokok babalanjo.
Cara dimodali melaksanakan suatu usahapun dapat dilaksanakan asal dengan perhitungan yang masak.


59. Sabuik nyato tarapuang, kok untuang batu jaleh tabanam, ikhtiar mamiliah untuang manyudahi.
Yang jadi kewajiban bagi kita manusia berusaha sejauh kemampuan dalam mencapai kehidupan yang baik kalau telah dilaksanakan dengan segala persyaratan yang wajar dan berlaku, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi Tuhan telah menjanjikan siapa yang berusaha dengan baik akan diberi rezki sesuai dengan apa yang telah diusahakan.

Artikel Terkait