Papatah Patitih Minang L/M

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 11 Dec, 2015 | Dibaca: 1180 | Nomor Artikel: #0265
Sarankan Laporkan Print Favorit

L

1.Laki-laki samalu, parampuan sarasan

Rahasia laki-laki sama-sama diketahui oleh laki-laki, begitu juga perempuan


2.Lareh

Adalah sistim pemerintahan dalam adat Minangkabau. Kelarasan Bodi Caniago mempunyai sistim Demokrasi dibawah Datuk Perpatih Nan Sabatang. sedangkan Kelarasan Koto Piliang yang mempunyai sistim Otokrasi berada dibawah Datuk Ketumanggungan.Dalam Kelarasan Bodi Caniago, jumlah suku dalam setiap nagari berjumlah genap, sedangkan pada Koto Piliang berjumlah ganjil.


3.Lareh Nan Duo  

Kerajaan Minangkabau terdiri dari dua kelarasan, yakni kelarasan Bodi Caniago dan kelarasan Koto Piliang.


4.Limbago Nan sapuluah

Limbago nan sapuluah ini merupakan intisari hukum adat di alam Minangkabau, yang terhimpun dalam sepuluh kata induk, atara lain :


  1. Cupak Usali
  2. Cupak Buatan
  3. Undang-Undang luhak
  4. Undang-Undang Nagari
  5. Undang-Undang dalam Nagari
  6. Undang-Undang Nan Duopuluah
  7. Kato Pusako
  8. Kato Dahulu
  9. Kato Buatan/Kato Mupakaik
  10. Kato Kamudian


5.Limpapeh rumah nan gadang

Lambang keturunan menurut matrilineal, dimana ibu merupakan tiang keluarga dalam kesukuan di Minangkabau.


6. Lain geleang panokok asiang kacundang sapik.

Gelagat seseorang atau suasana yang menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tak diingini.


7. Lah samak jalan kapintu, lah tarang jalan kadapua.

Seorang suami yang tidak kenal lagi pada tugasnya sebagai mamak dari kemenakan, tetapi semata tahu kepada si istri saja.


8. Limpato batang sitawa, digulai cubadak mudo, lah biaso kito tasalah, karano pangana indak sakali tibo.

Kekilafan dan kesalahan adalah sifat seorang manusia, karena pemikirannya tidak secara serentak.


9. Lauik gadang kalau dihadang, sadiokan sampan jo pandayuang.

Hiduik didunia mangupalang, sagalo karajo kamari cangguang.


10. Limpapeh rumah nan gadang, umbun puruik pegangan kunci.

Kaum wanita di Minangkabau adalah merupakan tiang kokoh diatas rumah tangga dan nageri, dan kunci tentang kebaikan dan keburukan suatu negeri.


11. Lauik banyak nan sati, rantau banyak nan batuah.

Kalau pergi berjalan kerantau orang hendaklah pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan.


12. Lah bacampua lamak jo galeme, indak babedo sadah jo tapuang.

Dalam suatu masyarakat tidak ada lagi batas-batas dalam pergaulan menurut norma adat dan agama.


13. Lahia jo bathin saukuran, isi kulik umpamo lahia.

Seseorang yang baik dan jujur sesuai kata dan perbuatannya.


14. Labuah luruih jalannyo pasa jan manyipang suok jo kida.

Sudah aturan dan undang-undang dan sudah cukup norma adat dan agama, jangan menyimpang dari itu.


M

15.Maantakkan kayu bajipang

Melakukan suatu perbuatan yang belum didapatkan kata sepakat, sehingga tidak dapat memberikan hasil yang baik sesuai dengan apa yang dimaksud semula.


16.Maharajo Dirajo

Gelar Maharajo Dirajo adalah berasal dari kependekan dari Maharajo Adhi Rajo, yang artinya raja segala raja yang berdaulat (King of King)

Adhi berasal dari bahasa Sangskerta yang artinya ”mulia”. Adhi raja adalah gelar yang tertinggi dalam suatu kerajaan. Dalam penuturan ”Maharaja Adhi Raja” menjadi ”Maharaja Diraja” Di Minangkabau menjadi ”Maharajo Dirajo”. Sesungguhnya ”Maharajo Dirajo” suatu gelar martabat sebagaimana gelar ” Sri Paduka Yang Mulia, Daulat yang Dipertuan Besar”.


17.Makan masak matah

Orang yang suka berbuat jahat dan mengganggu ketenteraman orang lain, atau orang yang sering dan suka melakukan perbuatan tanpa  mementingkan halal atau haram, melanggar kesopanan dan lain-lain perbuatan yang melanggar adat dan hukum yang berlaku.


18.Malakekkan baju balipek

Mengangkat penghulu, dari sebuah kesukuan yang telah lama lowong berhubung calon penggantinya masih kecil pada waktu penghulu yang lama itu meninggal.


19.Malangkah di ujuang padang, Basilek di ujuang karih, Kato salalu ba umpamo, Rundiang salalu ba kiasan

Setiap tindakan harus telah diperhitungkan risikonya.

Dalam mengungkapkan segala sesuatu tidak selalu harus terus terang, akan tetapi harus dikatakan secara perumpamaan dan atau kiasan agar tidak terlalu menyinggung perasaan pribadi atau masyarakat.


20.Maliang curi

Suatu perbuatan yang mengambil hak milik orang lain dengan jalan melakukan pengrusakan tempat, atau rumah selagi  pemiliknya lengah.


21.Malin

Adalah orang yang dituakan untuk menyelenggarakan segala hal yang berrhubungan dengan agama. Dia dianggap dalam adat sebagai orang terkemuka dalam bidang agama Islam.


22.Mamaga karambia condoang

Memelihara orang atau melindungi orang yang berpihak kepada orang lain, yang merugikan kita sendiri.


23.Mambangkik batang tarandam

Bila seorang penghulu meninggal, maka seharusnya sudah langsung diganti, tapi berhubung ada aral melintang, seperti terjadinya sengketa yang sulit untuk diatasi. Maka penghulu tidak dapat diganti selama bertahun-tahun. Hingga pada suatu kesempatan maka diangkat penghulu baru.


24.Mambilang dari aso

Mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan urutannya, kalau tidak akan menjadi kacau balau


25.Mamikua lamang angek

Orang yang menanggung (memikul) resiko atas perbuatan atau kesalahan orang lain.


26.Mancabiak baju didado

Membukakan aib diri sendiri atau kaum keluarga sendiri, yang merupakan tabu dalam satu kesukuan.


27.Mancancang ba landasan, malompek ba situmpu.

Setiap keputusan dan perbuatan itu harus ada dasar hukumnya.


28.Mancari lantai tajungkek.

Mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkan nama baik orang tersebut.


29.Mandi jo aia sagaluak

Diberi malu oleh seseorang didepan orang ramai.


30.Mangaji dari alif

Dalam melakukan suatu pekerjaan, perbuatan dan perkataan haruslah secara teratur susunannya. Bilamana ini tidak dilakukan, akan dinilai oleh masyarakat sebagai orang tidak tahu adat, dan sekaligus dianggap sebagai orang bodoh, yang kelak tidak diikut sertakan dalam urusan dalam masyarakat ataupun dalam kesukuannya sendiri.


31.Mangambang Nan Balipek.

Mendirikan penghulu baru yang tidak dapat dilakukan pada waktunya ter-tangguh karena belum didapatkan kata epakat.


32.Manggayuang putuih

Memberikan kata putus dalam mengadili suatu persengkataan atau masalah yang perlu mendapatkan keputusan.  Ini merupakan wewenang seorang penghulu.


33.Mangguntiang dalam lipatan,manuhuak kawan sairiang

Orang yang tidak jujur dalam bersahabat akan sangat tercela menurut tata-krama adat.


34.Manggantikan lapiak

Kawin dengan saudara istri setelah istrinya meninggal dunia.


35.Mangguntiang siba baju

Mendirikan penghulu karena terjadi sengketa yang tidak dapat didamaikan sehingga penghulu kini menjadi dua.


36.Manti

Adalah pembantu Penghulu dibidang tata laksana pemerintahan Nagari, atau oramg yang menyampaikan segala perintah kepada setiap anggota pesukuan dan menyampaikan segala pesan kepada penghulunya.


37.Manurunkan Nan tagantuang

Mendirikan penghulu baru setelah tertunda karena calon penghulu belum cukup umur.


38.Mati batagak budi .

Apabila Penghulu meninggal dunia maka diadakan penggantinya dengan segera diwaktu tanah pekuburannya masih merah (Belum ditumbuhi rumput).


39.Mato banyiah

Seluruh Rang Sumando.


40.Mului tataruang ameh padanannyo, kaki tataruang inai padanannyo,

Setiap perbuatan itu ada akibatnya


41.Murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan

Perkataan yang sembarangan gampang mengucapaknya, tapi perkataan perkataan yang benar dan tepat membutuhkan pertimbangan bijak

Kok pandai bakato-kato bak santan jo tangguli, kok tak pandai mangaluakan kato bak alu pancukia duri.


42.Musyawarah adat Nagari.

Merupakan musyawarah adat nagari, yang terdiri dari urang ampek jinih (empat golongan), antara lain :

  1. Penghulu (kepala sebuah suku, merangkap sebagai hakim).
  2. Cadiak pandai yang terdiri dari Panungkek (orang yang mewakili Penghulu dalam urusan nagari, jika Penghulu berhalangan). Cerdik cendikia, dan mamak-mamak lainnya.
  3. Alim Ulama.
  4. Parik Paga, ialah Penegak Hukum Adat, antara lain :
  5. Manti, ialah Jaksa Adat
  6. Hulu-balang, ialah Panglima Adat
  7. Pandeka, ialah Polisi Adat
  8. Nan mudo matah, ialah pemuda-pemudi yang berada, sebagai pegawai-pegawai dan pembantu lainnya.


43. Mumbang jatuah kalapo jatuah, indak babedo kaduonyo.

Setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya baik tua ataupun muda, kecil dan besar.


44. Malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio.

Setiap pekerjaan hendaklah pertengahan, jangan berlebih-lebihan, begitupun dalam tingkah dan laku.


45. Mukasuik hati mamaluak gunuang, apo dayo tangan indak sampai.

Seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, tetapi tidak ada kemampuan untuk mencapainya.


46. Mancabiak baju didado, manapuak aia didulang.

Seseorang yang berbicara tetapi tidak disadarinya bahwa dia telah memberi malu diri dan keluarganya sendiri.


47. Malakak kuciang didapua, manahan jarek dipintu.

Perbuatan seseorang yang tidak baik yang dilakukan kepada keluarga sendiri.


48. Mancari dama ka bawah rumah, mamapeh dalam balanggo.

Mencari keuntungan kedalam lingkungan anak kemenakan sendiri.


49. Mairikkan galah jo kaki, manjulaikan aka bakeh bagayuik, malabiahkan lantai bakeh bapinjak.

Seseorang yang ingin menjadikan orang lain tersalah, dengan jalan anjuran dan petunjuknya.


50. Mandapek samo balabo, kahilangan samo barugi.

Rasa social dan kerja sama yang baik yang harus diamalkan dalam pergaulan.


51. Manyauak di ilia-ilia, bakato dibawah-bawah.

Bergaul dalam masyarakat, begitupun dirantau orang hendaklah merendahkan diri.


52. Mancaliak jo suduik mato, bajalan di rusuak labuah.

Seseorang yang telah merasa malu, karena perbuatan yang tidak benar telah diketahui orang.


53. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik.

Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan, yakni yang telah positif baik.


54. Mamakai hereang jo gendeang, mamakai raso jo pareso.

Seseorang yang memakai perasaan malu dan mempunyai kesopanan yang baik.


55. Muluik manih talempong kato, baso baiak gulo dibibia.

Seseorang yang berbicara dengan lemah lembut dan baik susunan bahasanya.


56. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda.

Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan.


57. Malu batanyo sasek dijalan, sagan bagalah hanyuik sarantau.

Seseorang yang tidak mau bertanya tentang suatu pekerjaan yang tidak/belum dikerjakan. Karena ajaran adat itu pada umumnya berkiasan, tidak mudah dipahami tanpa mengetahuinya akan mengalami kesulitan.


58. Maniah nan jan lakeh di raguak, pahik nan jan lakeh di luahkan.

Sesuatu pelajaran dan pengetahuan dari orang lain pikirkan dahulu semasak-masaknya, benar atau tidaknya.


59. Mati harimau tingga balang, mati gajah tingga gadiang.

Manusia mati hendaknya meninggalkan jasa yang baik untuk anak dan keluraga seta masyarakat.


60. Mati samuik karano manisan, jatuah kabau dek lalang mudo.

Biasanya manusia itu banyak terpedaya oleh mulut manis dan budi bahasa yang baik.


61. Marangkuah tungua ka dado, maraiah suatu ka diri.

Setiap suatu yang dirasakan oleh orang lain hendak dapat dirasakan oleh kita sendiri


62. Mampahujankan tabuang garam, mampaliakkan rumah indak basasak.

Seseorang yang membukakan aibnya sendiri kepada oaring lain.


63. Manjujuang balacan dikapalo, mangali-gali najih dilubang.

Seseorang yang senang membukankan aib orang lain.


64. Managakkan banang basah, manaiakkan banda sundai.

Seseorang yang menolong orang lain, sedang orang lain itu dipihak yang tidak benar.


65. Musang babulu ayam, musuah dalam salimuik.

Seseorang yang berpurak menolong dan berpihak kepada kita, tetapi dia sebenarnya ingin mengetahui pendirian kita dan musuh kita.


66. Manusia manahan kieh, binatang Manahan palu.

Manusia yang sempurna selalu mengetahui kata-kata kiasan di Minangkabau.


67. Murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan.

Berbicara sangat mudah, tetapi sulit memelihara perkataan yang akan menyinggung perasaan orang lain.


68. Marabah sadundun jo balam, sikok barulang pai mandi, sambah sadundun jo salam, kato harok dibinisi.

Biasanya dalam pergaulan hidup, Tanya diberi kata berjawab, gayung bersambut.

Artikel Terkait